ABNnews – Kawasan Asia Tenggara tengah bersiap menggelar hajatan besar. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN resmi bergulir di Cebu, Filipina, pada 7–9 Mei 2026. Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan langsung turun gunung untuk menghadiri tiga pertemuan tingkat tinggi penentu arah masa depan kawasan.
Pada hari pertama, Presiden Prabowo diagendakan mengikuti KTT BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area). Di hari berikutnya, orang nomor satu di Indonesia ini bakal langsung tancap gas mengikuti dua sesi krusial KTT ke-48 ASEAN, yaitu sesi pleno dan sesi retreat.
Salah satu menu utama yang paling dinantikan dalam rangkaian KTT kali ini adalah perkembangan negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kabar baiknya, seluruh substansi secara umum sudah disepakati oleh negara anggota dan kini tinggal memasuki proses perapian dokumen hukum (legal scrubbing).
Perjanjian raksasa yang dijadwalkan ditandatangani pada KTT ASEAN November 2026 mendatang ini ternyata merupakan warisan berharga (legacy) saat Indonesia memegang Keketuaan ASEAN pada 2023 lalu. Efeknya tidak main-main bagi dompet kawasan karena bisa melipatgandakan nilai ekonomi digital Asia Tenggara.
“Implementasi DEFA akan dapat mendongkrak nilai ekonomi digital ASEAN menjadi USD 2 triliun (sekitar Rp 32.000 triliun) pada tahun 2030, naik dari perkiraan awal yang sebesar USD 1 triliun,” pungkas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis.
Airlangga yang memimpin langsung delegasi Indonesia dalam pertemuan para menteri ekonomi atau ASEAN Economic Community (AEC) Council Meeting di Dusit Thani Cebu membeberkan bahwa KTT tahun ini tidak akan berjalan santai. Di tengah memanasnya geopolitik dunia, para pemimpin ASEAN bakal memutar otak untuk melindungi kawasan dari guncangan luar.
“KTT ASEAN ke-48 ini akan fokus pada pembahasan dampak konflik global terhadap kawasan, terutama isu ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi di kawasan Asia Tenggara,” ungkap Airlangga.
Di bawah keketuaan Filipina yang mengusung tema “Navigating Our Future Together”, pertemuan tingkat menteri ini membahas 9 agenda super penting—mulai dari lanskap global terkini, keanggotaan Timor Leste, hingga cetak biru masa depan ASEAN 2045.
Meski dunia sedang tidak baik-baik saja, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara rupanya bikin takjub. Sepanjang tahun 2025 kemarin, ASEAN sukses mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang perkasa di angka 4,9%, melampaui proyeksi awal para pengamat.
“Kinerja ekonomi ASEAN ini mencerminkan fundamental kawasan Asia Tenggara yang cukup solid di tengah tekanan global,” terang Airlangga.
Demi menjaga tren positif ini, ada 19 Priority Economic Deliverables (PED) alias target ekonomi prioritas yang wajib diselesaikan sepanjang tahun 2026. Target tersebut berfokus pada 5 jurus utama: penguatan dagang dan investasi, percepatan transformasi digital, integrasi UMKM, pemanfataan ekonomi kreatif, serta pembangunan berkelanjutan dan inklusif.













