ABNnews – Masjid Wak Tanjong di Singapura membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menyebarkan syiar Islam ke seluruh dunia.
Meski berukuran tidak terlalu besar, masjid bersejarah ini berhasil menembus batas geografis melalui program pengajian berbasis digital yang kini diakses jamaah dari berbagai negara.
Berdiri di kawasan Paya Lebar, Singapura, masjid ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan selama lebih dari 150 tahun. Tak hanya sekadar bangunan ibadah, Masjid Wak Tanjong kini bertransformasi menjadi model pengelolaan masjid modern yang inspiratif.
Anggota Dewan Pengurus (Board of Directors) Masjid Wak Tanjong, Nailul Hafiz, mengungkapkan bahwa memakmurkan masjid harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada kegiatan fisik di dalam masjid saja.
“Masjid itu ibarat bintang-bintang di langit. Cahayanya menerangi langit. Maka kita perlu berusaha agar masjid bisa memberikan cahaya dan manfaat yang luas,” ujar Nailul kepada jurnalis Radio Silaturahim, Rabu (22/4/2026).
Di tengah padatnya aktivitas perkotaan dan keterbatasan ruang di Singapura, pengurus masjid berupaya menghadirkan solusi bagi masyarakat yang kesulitan datang langsung ke masjid.
Inovasi digital ini bermula dari niat sederhana: membantu jamaah sekitar yang memiliki keterbatasan mobilitas. Pengurus mulai memanfaatkan platform WhatsApp dan Telegram untuk menyebarkan materi kajian.
Siapa sangka, responsnya luar biasa. Tidak hanya warga lokal, banyak umat Muslim dari luar negeri yang juga membutuhkan layanan tersebut. Melihat antusiasme ini, program tersebut kemudian dikembangkan menjadi platform pembelajaran Al-Qur’an berbasis daring bernama QuranBit yang bisa diakses secara global.
Masjid Wak Tanjong memiliki sejarah panjang yang dimulai dari sebuah surau kayu pada tahun 1933 oleh sosok bernama Wak Tanjong. Seiring perkembangan komunitas Muslim di Singapura, masjid ini terus berevolusi.
Secara arsitektur, masjid ini memadukan gaya Melayu dan Indo-Saracen. Bahkan, setelah renovasi besar pada tahun 1998, ciri khas paviliun berkubah era 1930-an tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah yang berharga.
Baru-baru ini, pengurus Masjid Wak Tanjong juga menerima kunjungan dari rombongan QU Institute untuk berbagi pengalaman dan menjalin silaturahim terkait pengelolaan masjid modern.
Nailul menegaskan, kunci keberhasilan inovasi mereka adalah memulai dari kebutuhan nyata umat, dikelola dengan konsisten, dan dilandasi keikhlasan. Ia pun menitipkan pesan bagi pengurus masjid di mana pun berada untuk terus bersabar dalam memakmurkan rumah Allah.
“Menjadi pengurus masjid bukan perkara mudah, tetapi surga Allah juga tidak murah. Maka perlu kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan dalam menjalankannya,” pungkasnya.













