ABNnews — Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkapkan, dalam operasi besar di Kampung Bahari, Jakarta Utara, dan Kampung Ambon, Jakarta Barat, petugas menemukan penggunaan drone dan kamera CCTV oleh para pelaku untuk memantau pergerakan aparat.
Teknologi pengintai itu digunakan sebagai sistem deteksi dini agar para bandar bisa melarikan diri ketika aparat mendekat.
“Dari ujung ke ujung kawasan, jaringan ini berusaha membentengi diri. Setiap ada pergerakan orang asing, apalagi aparat, mereka bisa langsung memantau melalui sistem yang sudah dipasang,” kata Plt Deputi Penindakan BNN, Brigjen Budi Wibowo kepada wartawan.
Selain drone, petugas juga menemukan banyak kamera pengawas (CCTV) yang dipasang di berbagai sudut kampung. Kamera-kamera itu terhubung ke titik pemantauan yang dijaga anggota jaringan.
“Jadi bukan hanya kamera CCTV, tetapi juga drone yang mereka gunakan untuk memantau situasi dari udara. Ini menunjukkan bahwa modus jaringan narkoba kini semakin canggih dan sistematis,” tambahnya.
Temuan ini merupakan bagian dari operasi besar BNN yang berlangsung serentak di 53 kampung rawan narkoba di 34 provinsi pada 5–7 November 2025. Operasi melibatkan tim gabungan dari BNN, Polri, TNI, dan pemerintah daerah.
Hasilnya, sebanyak 1.259 orang diamankan karena diduga terlibat dalam jaringan peredaran maupun penyalahgunaan narkoba.
“Dari hasil asesmen, 37 orang diidentifikasi sebagai bandar. Sementara 359 orang direkomendasikan untuk menjalani rehabilitasi dan program wajib lapor di IPWL,” ujar Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto.
Selain mengamankan para tersangka, petugas juga menyita berbagai barang bukti. Total barang bukti yang diamankan antara lain 126,32 kilogram sabu-sabu, 12,7 kilogram ganja, 1.428 butir ekstasi, serta sejumlah psikotropika lainnya.
BNN juga menemukan uang tunai hasil transaksi narkoba. “Barang bukti non-narkotika yang kami amankan antara lain uang tunai sebesar Rp1.543.699.000 dan uang palsu sebanyak Rp5.500.000,” ungkap Suyudi.
Menurutnya, penggunaan teknologi seperti drone dan CCTV menjadi tantangan baru dalam pemberantasan narkoba. Para pelaku kini tidak hanya mengandalkan jaringan manusia, tetapi juga sistem pemantauan digital yang terintegrasi untuk menghindari deteksi aparat.
“Perang terhadap narkoba kini tidak lagi sekadar perang di lapangan, tapi juga perang teknologi,” kata Suyudi.













