banner 728x250

Bos Garuda Bocorkan Angka Ganas Produktivitas Maskapai di Tengah Keterbatasan Pesawat, Cuan Per Armada Naik 4,4 persen

Foto dok Garuda Indonesia

ABNnews – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membukukan kinerja positif di tengah upaya turnaround. Maskapai penerbangan pelat merah ini melaporkan adanya peningkatan produktivitas secara grup pada Semester I-2025.

Perusahaan menyatakan terus mempercepat langkah transformasi untuk memperkuat kinerja di paruh kedua tahun ini. Langkah strategis utama adalah menambah jumlah armada operasional dengan dukungan penuh dari Pemerintah melalui Danantara Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, menjelaskan dalam paparan kepada investor dan analis keuangan pada Selasa (7/10), bahwa rangkaian upaya optimalisasi operasional dan layanan telah menunjukkan hasil signifikan pada pertengahan tahun ini.

Produktivitas Lebih Tinggi meski Pesawat Lebih Sedikit

Wamildan mengakui, tantangan perawatan armada pasca-PKPU masih menjadi beban utama perusahaan pada Semester I-2025. Namun, ia menekankan bahwa Garuda Indonesia Group mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi meskipun dengan jumlah pesawat operasional yang lebih sedikit (grounded).

“Hal tersebut mencatatkan postur pendapatan yang lebih baik, sebagaimana tampak pada pendapatan untuk setiap pesawat yang beroperasi (revenue per online aircraft),” ungkap Wamildan.

Kenaikan pendapatan per armada ini menjadi sorotan utama:
* Rata-rata pendapatan per armada Garuda Indonesia naik 1,3% menjadi US$15,88 juta (dari US$15,68 juta) pada periode Januari–Juni 2025.

* Anak perusahaan, Citilink, mencatat pertumbuhan yang lebih agresif, yakni 4,4%. Rata-rata pendapatan per pesawat yang beroperasi naik dari USD 10,99 juta menjadi USD 11,47 juta.


Selain itu, pendapatan usaha konsolidasi (audited) Garuda Group dari penerbangan tidak berjadwal (charter) juga melonjak 15,66%, mencapai US$205,84 juta pada Semester I-2025.

Fokus Aktifkan Armada Grounded

Di sisi biaya, Garuda Indonesia berhasil menekan beban usaha menjadi US$1,50 miliar, turun dari US$1,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, profitabilitas masih belum tercapai karena tekanan dari kewajiban keuangan jangka panjang pasca restrukturisasi. Fokus utama perusahaan saat ini adalah mengaktifkan kembali armada yang masih dalam kondisi tidak beroperasi (grounded) yang selama ini menjadi beban biaya (sunk cost).

Untuk menutup kekurangan armada, Garuda Indonesia Group, dengan dukungan Danantara, berhasil mengaktifkan kembali lima unit Airbus A320 yang dioperasikan oleh Citilink hingga awal Oktober 2025. Proses pemulihan ini ditargetkan terus berjalan hingga mampu mengaktifkan 15 armada Citilink pada akhir tahun 2025.

“Garuda Indonesia Group saat ini terus berupaya untuk memperbaiki kinerja di antaranya dengan peningkatan kapasitas produksi, serta fokus pada rute-rute penerbangan yang profitable,” kata Wamildan.

“Dengan berbagai upaya perbaikan ini dan dukungan penuh Danantara, kami targetkan di akhir tahun ini Garuda Indonesia akan dapat segera memperbaiki posisi ekuitas kami menjadi positif,” tutup Wamildan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *