Kinerja Manufaktur September 2026 Tetap Kokoh, 15 Subsektor Industri Masih Tumbuh Positif

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

ABNnews – Kinerja industri manufaktur nasional pada September 2026 tercatat tetap kokoh dan berada dalam fase ekspansi di tengah dinamika perekonomian global maupun domestik. Ketahanan sektor pengolahan ini ditopang oleh 15 subsektor industri yang masih terus mencatatkan pertumbuhan positif.

Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 yang berada di level 51,93. Meski mengalami perlambatan tipis sebesar 0,37 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,30, angka tersebut menegaskan aktivitas manufaktur dalam negeri masih berada di zona ekspansif (di atas level 50).

“Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas publik kinerja manufaktur, Kementerian Perindustrian menyampaikan bahwa industri dalam negeri pada bulan September 2026 masih berada pada fase ekspansi atau IKI berada di atas 50,” kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif dalam rilis IKI di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Febri menjelaskan, moncer-nya kinerja industri bulan ini ditopang oleh peningkatan permintaan baru. Walau begitu, variabel produksi mengalami sedikit penurunan dan persediaan barang di gudang kian menumpuk. Hal ini dipicu oleh naiknya biaya logistik pengiriman produk ekspor maupun domestik, serta sikap wait and see pelaku industri terhadap dinamika pasar lokal.

Di sisi lain, perubahan iklim dan fenomena El Nino turut memberikan dampak signifikan pada peta industri. Kenaikan suhu udara melonjakkan permintaan produk minuman hingga utilisasinya naik tajam, membuat subsektor industri minuman memuncaki capaian IKI tertinggi di antara 23 subsektor lainnya.

Kendati demikian, gangguan pasokan air untuk produksi dan pengiriman bahan baku via jalur sungai mulai dikeluhkan pelaku usaha.

“Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah memerintahkan jajarannya agar memitigasi dampak El Nino pada industri, baik terhadap bahan baku, energi, pekerja, pergudangan, atau pengiriman barang sehingga kinerja ekosistem rantai pasok industri selama musim ini tidak terganggu,” tegas Febri.

Dari total 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 15 subsektor sukses mencatatkan fase ekspansi. Subsektor yang berada di zona hijau ini memegang peranan vital karena menyumbang hingga 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas Triwulan II-2026.

Dua subsektor dengan capaian IKI tertinggi diraih oleh industri minuman serta industri alat angkutan lainnya.

Adapun 8 subsektor lainnya masih harus mengalami kontraksi, antara lain industri kulit dan alas kaki; kayu dan gabus; kertas dan barang dari kertas; pencetakan media rekaman; karet dan plastik; komputer dan elektronik; peralatan listrik; serta industri mesin dan perlengkapan.

Dari sisi variabel pembentuk IKI, indeks pesanan merangkak naik 0,27 poin ke level 53,40. Indeks produksi tercatat sebesar 53,78 (turun 1,32 poin namun tetap ekspansif), sedangkan indeks persediaan berada di level 45,45 (turun 0,57 poin).

“Pesanan masih ekspansif dan bahkan mengalami peningkatan. Artinya, permintaan terhadap produk industri masih ada. Namun, pada saat yang sama pelaku industri melakukan penyesuaian terhadap produksi dan persediaannya,” jelas Febri.

Berdasarkan sasaran pasar, industri berorientasi ekspor mencatatkan IKI 52,60 (melambat dari 53,09), sementara industri berorientasi domestik mencatatkan IKI 50,94 (melambat dari 51,13). Kedua indikator ini dipastikan masih bertahan di zona ekspansi.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Ditjen ILMATE Feby Setyo Hariyono menyebut industri alat angkutan lainnya (KBLI 30) tampil mengesankan sebagai penyumbang ekspansi terbesar kedua. Pendorong utamanya datang dari industri sepeda motor, di mana penjualan domestik Januari–Agustus 2026 tembus 4,36 juta unit (naik 2,16 persen). Ekspor motor secara CBU melesat 18,19 persen dan komponen tumbuh 28,87 persen.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Industri Agro Yulia Astuti mengungkapkan mayoritas industri agro masih ekspansi, meski ada tiga kelompok yang terkontraksi akibat cuaca buruk.

Di sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Sekretaris Ditjen Putu Nadi Astuti mencatat lima subsektor berhasil ekspansi, yaitu industri tekstil, pakaian jadi, bahan kimia, farmasi/obat tradisional, serta barang galian bukan logam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *