ABNnews – Indonesia dan Bulgaria terus menggejot kemitraan strategis di sektor manufaktur, mulai dari potensi pengembangan teknologi panel surya hingga adopsi konsep Eco-Industrial Park.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya kedua negara memperkuat sektor industri nasional di tengah momentum peringatan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2026.
Meski memiliki karakter ekonomi dan potensi sumber daya yang berbeda, Indonesia dan Bulgaria sama-sama memiliki industri manufaktur yang berkembang, mencakup sektor makanan dan minuman, otomotif, mesin dan peralatan, logam, hingga produk kimia.
“Kami memandang pertemuan ini sebagai bentuk konkret dari upaya bersama untuk terus memajukan sektor perekonomian, khususnya di bidang industri dan manufaktur,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Kerja sama kedua negara didukung oleh dasar ekonomi yang terus bertumbuh. Pada tahun 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Bulgaria mencapai USD 230,5 juta dengan tren pertumbuhan rata-rata 13,34 persen sepanjang 2021–2025.
Dari total tersebut, ekspor Indonesia ke Bulgaria mencatatkan nilai USD 147,4 juta dengan tren pertumbuhan tahunan rata-rata 31,13 persen. Komoditas ekspor utama Indonesia meliputi bijih dan terak, aluminium, karet, besi dan baja, olahan sawit, hingga kertas.
Sementara di sektor investasi, Bulgaria mencatatkan nilai realisasi investasi di Indonesia sebesar USD 5,59 juta sepanjang periode 2021–2025, yang masih sangat terbuka untuk ditingkatkan melalui pembangunan fasilitas produksi agro, mesin perkakas, hingga pengembangan klaster industri.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy menyampaikan bahwa kemitraan kedua negara difokuskan pada industri bernilai tambah, pengembangan fasilitas produksi, hingga transfer pengetahuan dan teknologi.
“Kerja sama Indonesia dan Bulgaria dapat diarahkan pada penguatan industri bernilai tambah, pengembangan fasilitas produksi, serta pertukaran pengetahuan dan teknologi. Pengalaman Bulgaria dalam pengembangan klaster industri juga dapat menjadi referensi bagi pengembangan kawasan industri di Indonesia,” terang Tri.
Indonesia terbuka untuk mempelajari pengalaman Bulgaria dalam penerapan model klaster industri di Eropa, khususnya pengembangan Eco-Industrial Park yang mengintegrasikan perusahaan, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pemerintah. Sebaliknya, Indonesia juga siap membagikan pengalamannya dalam pengelolaan kawasan industri nasional.
“Potensi kerja sama teknologi tinggi juga menjadi bagian yang menarik untuk ditindaklanjuti. Sejumlah perusahaan Bulgaria memiliki kompetensi di bidang yang relevan dengan kebutuhan pengembangan industri Indonesia, sehingga peluang transfer teknologi, kemitraan, maupun investasi bersama dapat dijajaki lebih lanjut,” tambah Tri.
Dalam pertemuan bilateral antara Wamenperin Faisol Riza dan Wakil Menteri Ekonomi, Investasi, dan Industri Bulgaria Mihaela Georgieva Karadimova pada Senin (14/9), Indonesia menyampaikan peluang untuk meningkatkan ekspor produk industri nasional sekaligus menjajaki peran Bulgaria sebagai hub atau pintu masuk utama menuju pasar Uni Eropa.
Wamenperin menuturkan sejumlah komoditas industri unggulan yang berpotensi terus dikembangkan ke pasar Eropa antara lain panel surya beserta peralatannya, alat kesehatan, karet, produk olahan sawit, ikan kaleng, dan kakao. Langkah ini akan ditindaklanjuti melalui business matching, identifikasi kebutuhan industri, serta fasilitasi informasi persyaratan pasar.
“Tahun 2026 merupakan momentum yang istimewa bagi hubungan Indonesia dan Bulgaria karena kedua negara memperingati 70 tahun hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak tahun 1956. Peringatan 70 tahun ini menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat kerja sama industri yang saling menguntungkan dan dapat ditindaklanjuti secara konkret,” pungkas Faisol.












