ABNnews – Pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta menuju Pontianak terpaksa memutar balik kembali ke Bandara Soekarno-Hatta (return to base/RTB).
Keputusan ini diambil akibat kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan Bandara Supadio Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (2/9/2026).
Imbas kabut asap tersebut, jarak pandang (visibility) di area bandara merosot drastis hingga tersisa sekitar 200 meter. Kondisi ini membuat aktivitas penerbangan belum dapat berjalan normal.
Manager Operasi Bandara Supadio Pontianak, Muhammad Arifin, membenarkan penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menjadi salah satu yang paling terdampak.
“Per hari ini memang sudah ada dua flight yang terdampak. Dampak dari asap ini khususnya jarak pandang. Visibility kita sementara di angka 200-an meter,” kata Arifin.
Arifin merincikan, dua jadwal penerbangan yang dimaksud meliputi satu penerbangan kedatangan dari Jakarta menuju Pontianak serta satu penerbangan rute balik menuju Jakarta akibat pesawat mengambil langkah RTB.
Hingga pukul 10.35 WIB, kondisi jarak pandang di area landasan pacu dilaporkan masih belum membaik.
Meski penerbangan terganggu akibat visibility yang terbatas, Arifin menegaskan bahwa pihak pengelola tidak menutup operasional Bandara Supadio. Layanan kebandarudaraan tetap dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga 20.00 WIB.
“Dikarenakan kondisi cuaca dan di-support dengan visibility yang rendah, operasional layanan penerbangan baik berangkat ataupun datang itu belum bisa kita akomodir,” ujar Arifin.
Pihak bandara terus memantau situasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna mendapatkan pembaruan kondisi cuaca terkini.
Arifin menambahkan, potensi bahaya kabut asap sejatinya telah dipantau sejak 8 Agustus 2026. Dampaknya sempat tak terlalu mengganggu hingga 24 Agustus, sebelum akhirnya memburuk secara dominan dalam sepekan terakhir.
Sebagai langkah mitigasi risiko penumpukan, pengelola bandara berkoordinasi dengan sejumlah maskapai penerbangan untuk melakukan penyesuaian jadwal (retiming).
Grup Lion Air dan beberapa maskapai lain diketahui telah menggeser waktu penerbangan untuk rute dari dan menuju Cengkareng, Batam, serta beberapa destinasi lainnya.
Kendati demikian, manajemen bandara belum dapat memastikan estimasi waktu operasional penerbangan kembali normal sepenuhnya.
“Misalkan kita pastikan kita mulai penerbangan jam 10, belum bisa juga karena visibility belum bisa kita pastikan baik,” ucap Arifin.
Oleh karena itu, seluruh keputusan izin lepas landas (take-off) maupun mendarat (landing) tetap bergantung penuh pada pembaruan data jarak pandang faktual demi keselamatan penumpang.












