ABNnews – Sebanyak 110 cendekiawan terkemuka dari Indonesia dan Malaysia berkumpul di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, dalam ajang Persidangan Kedua Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) yang digelar pada 20-23 Agustus 2026.
Ajang internasional yang berlangsung hangat dan akrab ini sukses merumuskan pikiran strategis serta peta jalan perwujudan konsep Negara Madani di kawasan Asia.
Kegiatan bernilai historis tersebut diinisiasi atas kerja sama Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) bersama Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM).
Inisiator gerakan sekaligus Ketua Pembina CDCC, Din Syamsuddin, menegaskan optimismenya bahwa Indonesia dan Malaysia memegang peranan kunci sebagai lokomotif utama kebangkitan peradaban Islam global di masa depan.
“Dunia Arab, Persia, Afrika telah menjalankan tugas peradabannya. Kini giliran Asia Tenggara,” tegas Din Syamsuddin.
Menurutnya, umat Islam serumpun di Malaysia dan Indonesia memikul tanggung jawab sejarah untuk menjadi pemrakarsa kebangkitan kembali peradaban Islam. Terutama dalam menghadapi dinamika perubahan geostrategis dunia di bidang ekonomi dan politik.
Melalui sidang ini, para cendekiawan bersepakat bahwa wawasan Negara Madani memiliki relevansi kuat untuk mendorong kebangkitan peradaban Melayu-Islam.
Implementasinya dapat diwujudkan dengan menyenyawakan nilai-nilai keutamaan madani (madani virtuous) ke dalam kerangka negara bangsa yang sudah ada, baik Pancasila di Indonesia maupun Rukun Negara di Malaysia.
Jika nilai-nilai keutamaan madani tersebut berhasil diperkuat dan diterapkan secara murni di kawasan Malindo, maka pengarusutamaannya dapat diperluas ke tingkat Asia Tenggara hingga panggung dunia.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran tokoh terkemuka dari kedua negara. Delegasi Malaysia dipimpin langsung oleh Menteri Agama Malaysia Zulkifli Hasan bersama Direktur Jenderal IKIM Mohamed Azam yang memboyong para akademisi serta pimpinan lembaga kajian Islam.
Sementara dari pihak Indonesia, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla hadir memberikan ceramah kunci (keynote speech). Jajaran menteri kabinet juga turut berpartisipasi, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, serta Dirjen Saintek Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani.
Selain itu, hadir pula Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Anggota DPR RI Jazuli Juwaini, Kepala BRIN Arif Satria, serta pimpinan ormas-ormas Islam tingkat pusat.












