ABNnews – Pemerintah Indonesia dan Delegasi Uni Eropa mempercepat proses ratifikasi perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).
Perjanjian kerja sama ekonomi ini dinilai sebagai game changer krusial yang siap mendongkrak konektivitas perdagangan, investasi, hingga ketahanan ekonomi di kawasan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi kehadiran para Duta Besar Negara Anggota Uni Eropa dalam dialog strategis yang digelar di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Delegasi Uni Eropa dan para Duta Besar negara-negara Uni Eropa atas kehadiran pada kesempatan ini. Kami melihat IEU CEPA sebagai game changer untuk memperkuat perdagangan, investasi, diversifikasi rantai pasok, dan ketahanan ekonomi bilateral di kawasan ASEAN/Indo-Pasifik,” ungkap Menko Airlangga.
Apabila resmi diimplementasikan mulai awal tahun depan, Indonesia akan langsung meraup keuntungan berupa pembebasan tarif sebesar 0% untuk 90,4% pos tarif ekspor. Sementara 8,37% sisanya akan dikurangi secara bertahap.
Kebijakan ini diproyeksikan memperluas pasar ekspor komoditas unggulan RI seperti sawit, alas kaki, kopi, furnitur, produk pertanian/perikanan, hingga telekomunikasi. Sebaliknya, Uni Eropa juga mendapat akses pasar yang lebih luas dan pasokan produk yang kompetitif di Indonesia.
Airlangga membeberkan bahwa progres penyusunan dokumen kesepakatan versi bahasa Inggris kini tinggal menyelesaikan tahap akhir. Perjanjian IEU CEPA ditargetkan siap ditandatangani pada Oktober 2026.
“Sesudah ditandatangani akan dibawa ke Parlemen Uni Eropa untuk mendapatkan ratifikasi. Di Indonesia sendiri, Pak Menteri Perdagangan sudah berkonsultasi dengan DPR. Indonesia akan menggunakan mekanisme Perpres karena sudah didiskusikan dengan DPR, sehingga implementasinya akan lebih cepat,” terang Airlangga.
Percepatan ini juga ditujukan untuk mengantisipasi berakhirnya skema Generalised Scheme of Preferences (GSP) Indonesia pada akhir tahun ini. Ratifikasi IEU CEPA diharapkan dapat langsung menutup kesenjangan skema perdagangan tersebut.
Lewat ratifikasi perjanjian ini, Indonesia mendorong masuknya investasi bernilai tambah tinggi dari Eropa, seperti di sektor manufaktur maju, energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), ekosistem digital, hingga farmasi untuk memacu transfer teknologi nasional.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Y.M. Denis Chaibi, menyambut hangat komitmen pemerintah Indonesia. Menurutnya, percepatan ini menjadi sinyal positif bagi iklim investasi.
“Ini adalah kesempatan fantastis bagi Negara-Negara Anggota Uni Eropa untuk menyatakan komitmen politik mereka untuk menandatangani CEPA sesegera mungkin. Ratifikasi ini akan memicu minat yang kuat untuk berinvestasi di Indonesia bagi perusahaan-perusahaan Eropa,” tutur Dubes Denis.
Denis memproyeksikan bakal ada lonjakan kunjungan delegasi bisnis, menteri, hingga keluarga kerajaan Eropa ke Indonesia. Bahkan, Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa Maros Sefcovic dijadwalkan melawat ke Indonesia pada akhir Oktober atau awal November mendatang.
Menyikapi hal tersebut, Uni Eropa mendukung penuh usulan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengenai pembentukan Joint Task Force agar para pelaku usaha dari kedua belah pihak bisa terlibat aktif dalam persiapan teknis implementasi IEU CEPA.












