Opini  

Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan

ABNnews – Meneladan, glorifikasi keteladanan pahlawan dalam wacana dengan aktualisasi nilai kepahlawanan dalam perilaku sosial bukan sekedar hiasan lisan

Ungkapan “Meneladani Pahlawan di Hari Kemerdekaan” merupakan frasa yang sangat lazim digunakan dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan. Namun, apabila ditinjau secara kebahasaan dan semantik, terdapat ruang untuk mempertanyakan ketepatan pilihan kata tersebut, khususnya jika maksud yang hendak disampaikan adalah mengikuti atau mengambil keteladanan dari para pahlawan.

Dalam bahasa Indonesia, akhiran “-i” memiliki berbagai fungsi dan makna, bergantung pada bentuk dasar serta konteks penggunaannya. Salah satu fungsi yang dapat muncul adalah memberikan atau melakukan suatu tindakan terhadap objek tertentu.

Karena itu, secara intuitif, kata “meneladani” dapat dipahami sebagai melakukan tindakan memberi teladan atau menjadikan sesuatu sebagai objek tindakan. Maksud yang hendak dibangun dalam konteks peringatan Hari Kemerdekaan sesungguhnya bukanlah “memberi teladan kepada pahlawan”, melainkan menjadikan nilai, sikap, perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan sebagai teladan bagi kehidupan kita.

Atas dasar itu, ungkapan “Meneladan Pahlawan” menjadi pilihan yang menarik dan secara maknawi lebih dekat dengan gagasan mengambil atau mengikuti keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan.

Kata meneladan menempatkan subjek sebagai pihak yang belajar dari keteladanan, bukan sebagai pihak yang sekadar mengulang sebuah istilah yang telah lazim digunakan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah kata meneladani dapat atau tidak dapat digunakan. Dalam perkembangan bahasa, suatu bentuk kata dapat menjadi lazim karena frekuensi penggunaannya dan kemudian memperoleh penerimaan dalam masyarakat. Namun, kelaziman penggunaan tidak selalu identik dengan ketepatan makna yang hendak dikonstruksikan dalam suatu konteks tertentu.

Dengan demikian, penggunaan ungkapan “Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan” dapat dimaknai sebagai sebuah ajakan untuk kembali pada substansi keteladanan: belajar dari keberanian para pahlawan, menghayati nilai perjuangannya, meneruskan semangat pengabdiannya, serta mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan nyata bagi bangsa dan negara.

Hari Kemerdekaan dengan demikian tidak semestinya berhenti pada kegiatan mengenang pahlawan, tetapi harus menjadi momentum untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kekinian. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada para pahlawan bukan hanya dengan menyebut nama mereka, melainkan dengan menghidupkan kembali nilai perjuangan mereka melalui perilaku, pengabdian, integritas, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Setiap Hari Kemerdekaan, kita hampir selalu mendengar ungkapan “meneladani para pahlawan.” Kalimat tersebut hadir dalam pidato, spanduk, sambutan, tulisan, bahkan menjadi bagian dari berbagai kegiatan seremonial. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana keteladanan para pahlawan benar-benar hadir dalam perilaku kita?

Jangan sampai keteladanan para pahlawan hanya menjadi bahasa lisan yang indah, tetapi kehilangan daya transformasinya dalam kehidupan nyata.

Para pahlawan tidak hanya meninggalkan nama dan sejarah. Mereka meninggalkan nilai: keberanian, pengorbanan, persatuan, kejujuran, kesederhanaan, keberpihakan kepada kepentingan bangsa, serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Nilai-nilai itulah yang semestinya diwarisi oleh generasi setelahnya.

Ironisnya, dalam kehidupan kekinian, kita masih menyaksikan berbagai perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Kepentingan pribadi dan kelompok terkadang lebih dominan daripada kepentingan publik; kejujuran berhadapan dengan pragmatisme; integritas berhadapan dengan kepentingan sesaat; sementara semangat persatuan sering kali dikalahkan oleh fanatisme, polarisasi, dan kepentingan sektoral.

Di sinilah makna “meneladan” menjadi penting. Meneladan bukan sekadar mengucapkan atau mengagungkan nama pahlawan. Meneladan berarti mengambil nilai perjuangan mereka untuk kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Karena itu, peringatan Hari Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa pahlawan kita?”, tetapi bergerak lebih jauh menjadi pertanyaan reflektif: “Apakah perilaku kita hari ini masih mencerminkan nilai-nilai yang dahulu dilakukan oleh para pahlawan?”

Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk kemerdekaan bangsa dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka perjuangan generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan integritas, kerja keras, keadilan, tanggung jawab, persatuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan demikian, keteladanan pahlawan tidak boleh menjadi sekadar retorika tahunan yang muncul setiap bulan Agustus, lalu menghilang ketika seremoni selesai. Keteladanan harus menjadi etika kehidupan sehari-hari.

Sebab, ukuran penghormatan kepada pahlawan bukan seberapa sering kita menyebut nama mereka, melainkan seberapa jauh nilai perjuangan mereka hidup dalam perilaku kita.

Kemerdekaan diwariskan oleh para pahlawan melalui perjuangan.
Menjaga makna kemerdekaan adalah tanggung jawab kita melalui keteladanan.

Pada Hari Kemerdekaan ini, barangkali kita tidak cukup hanya berkata “Mari meneladan para pahlawan.” Lebih penting dari itu adalah memastikan bahwa dalam diri kita sendiri masih terdapat keberanian untuk jujur, kesediaan untuk berkorban, keteguhan memegang prinsip, dan keberpihakan kepada kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan kamu, saya atau mereka.

Jangan biarkan keteladanan pahlawan hanya hidup saat pidato dalam peringatan kemerdekaan. Tetapi ia hidup dalam perilaku.

Dirgahayu RI ke 81

(Str’90)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *