banner 728x250

Ekspor Tembus USD 165 Juta, Produk Kriya dan Wastra RI Makin Laris di Luar Negeri

Foto dok kemenperin

ABNnews – Nilai ekspor industri kerajinan dan kain tradisional (wastra) Indonesia sukses mencatatkan rapor hijau.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), nilai ekspor kriya nasional pada Triwulan I Tahun 2026 berhasil menembus angka fantastis USD 165,27 juta, atau melonjak tajam sekitar 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren positif ini membuktikan bahwa produk lokal buatan perajin tanah air makin laris manis dan diakui di pasar luar negeri.

Merespons gairah pasar tersebut, Kemenperin terus tancap gas memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) melalui berbagai promosi masif, strategi pemasaran taktis, hingga perluasan akses pasar global bagi produk wastra dan kriya Nusantara.

Langkah ini digenjot guna mendongkrak daya saing industri kreatif berbasis budaya sekaligus memperkokoh posisi produk lokal di pasar domestik maupun internasional.

Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Loemongga Kartasasmita, membeberkan bahwa produk kain tradisional Indonesia kini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tren fesyen berkelanjutan dunia atau slow fashion yang tengah berkembang pesat di berbagai negara.

“Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk yang berkelanjutan, wastra Nusantara menawarkan keunikan, kualitas, serta nilai budaya yang tidak dapat tergantikan oleh produk massal. Selain itu, industri kriya Indonesia juga memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional dan semakin mendapat apresiasi di pasar global,” ungkap Loemongga pada pembukaan Pameran Swarna Wastra Nusantara (SWN) 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurut Loemongga, mayoritas produk wastra tanah air hingga kini masih diproduksi mengandalkan teknik tradisional serta memanfaatkan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Walau proses pembuatannya memakan waktu yang relatif panjang, produk akhir yang dihasilkan dijamin memiliki kualitas premium, daya tahan yang kokoh, serta nilai filosofis tinggi yang bernilai warisan lintas generasi.

“Keunggulan tersebut menjadikan wastra Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di pasar nasional maupun internasional. Karena itu, kita perlu terus mengangkat dan mempromosikan budaya wastra sebagai bagian dari tren fesyen berkelanjutan dunia,” cetus Loemongga optimistis.

Demi mempercepat peningkatan daya saing IKM berbasis budaya ini, Kemenperin menjalin sinergi erat dengan Dekranas untuk menggelar Pameran Swarna Wastra Nusantara (SWN) 2026.

Mengusung tema besar Tenun dan Produk Kriya Lintas Zaman, hajatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Dekranas ke-46 yang dimotori oleh Kemenperin selaku Ex-Officio Bidang Daya Saing Dekranas, bersama PT Mediatama Binakreasi, PT Astra International Tbk, dan Yayasan Dharma Bhakti Astra.

Pameran ciamik ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 9 hingga 11 Juni 2026, bertempat di Plasa Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta.

“Tema Tenun dan Produk Kriya Lintas Zaman menjadi wujud nyata kolaborasi antara tradisi dan inovasi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Nusantara agar terus berkembang dan relevan bagi generasi mendatang,” jelas Loemongga.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, merincikan bahwa gelaran SWN 2026 ini menjadi wadah unjuk gigi bagi 45 IKM terpilih. Mereka menampilkan produk-produk premium mulai dari kain tenun, songket, batik, aksesori, hingga aneka kerajinan tangan yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Para peserta yang terlibat datang dari pelbagai pelosok daerah dan merupakan IKM binaan langsung dari kementerian, lembaga, BUMN, Dekranas, Dekranasda, hingga pemerintah daerah.

Acara pun dikemas secara modern dan inklusif agar bisa menjembatani pertemuan langsung antara pelaku usaha dengan para calon mitra bisnis serta konsumen luas.

“Melalui kegiatan ini, para perajin dan pelaku IKM memperoleh ruang untuk menampilkan karya terbaiknya, memperluas jejaring usaha, serta memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan,” tutur Reni.

Reni menambahkan, pameran SWN 2026 ini juga merupakan batu loncatan pembinaan dari Kemenperin menuju puncak HUT Dekranas ke-46 yang bakal digeber di Kota Makassar pada Juli 2026 mendatang.

Berbagai program pendampingan pun telah gencar dilaksanakan di lapangan, seperti diversifikasi produk kerajinan di Kabupaten Cirebon, inovasi dan sertifikasi halal IKM keramik tableware di Bandung, pengembangan sentra kerajinan bambu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, hingga bimbingan teknis diversifikasi produk tenun di Kota Kediri.

Sementara itu, Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menilai pameran ini memegang peranan edukasi yang krusial bagi generasi muda.

“Pameran ini menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan, menghasilkan produk yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu bersaing secara ekonomi. Regenerasi perajin dan pelaku usaha menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya bangsa,” kata Budi.

Tak sekadar pameran pajangan, SWN 2026 juga menghadirkan rangkaian Workshop Kreasi Wastra yang digelar setiap hari. Aktivitas ini memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat untuk belajar mengembangkan produk berbasis wastra Nusantara menjadi karya kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Direktur Mediatama Event, Umi Noor Wijiati, berharap penuh agar Swarna Wastra Nusantara 2026 bisa melecut apresiasi serta rasa cinta masyarakat terhadap produk lokal.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang mendorong masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan bangga menggunakan karya wastra Indonesia. Semoga upaya ini dapat menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengembangan industri kreatif nasional,” pungkas Umi menutup pembicaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *