ABNnews – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) meluncurkan gebrakan ekonomi sirkular berbasis lingkungan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan pelat merah ini sukses menggerakkan roda ekonomi emak-emak di sekitar wilayah operasional melalui bisnis daur ulang limbah kapal berupa life jacket (jaket keselamatan) usang menjadi produk tas dan sepatu bernilai tinggi.
Inisiatif kreatif dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) ini berjalan beriringan dengan komitmen keberlanjutan perusahaan. Selain fokus pada pengelolaan limbah operasional, PELNI juga menggenjot program penghijauan masif guna menjaga ekosistem di sekitar pelabuhan.
Aksi penanaman pohon tersebut serentak dieksekusi di sejumlah wilayah operasional strategis PELNI, meliputi Ternate, Sampit, Parepare, dan Bima.
Total ada lebih dari 200 bibit pohon yang ditanam sebagai langkah taktis mendukung mitigasi dampak perubahan iklim lewat peningkatan ruang terbuka hijau.
Gebrakan PELNI menyulap jaket keselamatan yang telah habis masa pakainya menjadi produk fesyen ramah lingkungan ini terbukti sangat efektif menekan volume sampah. Setiap produk tas dan sepatu yang dihasilkan mengandung sekitar 71 persen material hasil daur ulang limbah life jacket.
Kalkulasi ekologisnya pun tidak main-main. Khusus untuk pembuatan sepasang sepatu daur ulang, PELNI mampu memanfaatkan 227 gram material bekas.
Langkah ini terbukti sukses mencegah emisi karbon hingga 5,244 kilogram CO2-eq, serta menghemat penggunaan air bersih hingga 755,56 liter jika dibandingkan dengan proses produksi sepatu konvensional.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI, Anik Hidayati, membeberkan bahwa program inovatif ini didesain agar mampu memberikan tetesan dampak sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat di akar rumput.
“Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor transportasi laut, PELNI menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan operasional dan pelestarian lingkungan. Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif keberlanjutan, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan limbah yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Anik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/6/2026).
Hebatnya lagi, proyek daur ulang limbah kapal ini mayoritas digerakkan oleh kaum perempuan di daerah. Tercatat, sebanyak 44 persen perajin yang terlibat langsung merupakan emak-emak yang terdiri dari ibu rumah tangga dan anggota aktif penggerak PKK.
Dengan demikian, limbah kapal yang tadinya tidak bernilai kini bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Dalam mengeksekusi program lingkungan ini, PELNI tidak berjalan sendirian.
BUMN transportasi laut ini menempel ketat dan bersinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di masing-masing daerah guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan jangka panjang.
“Keberlanjutan bukan hanya menjadi komitmen perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami kepada generasi mendatang. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, kami akan terus menghadirkan program-program yang memberikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan nasional secara berkelanjutan,” pungkas Anik.











