banner 728x250

Singgung Teori Brett King, Bos BRI Buka-bukaan Soal Nasib Perbankan di Era Gen AI

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi (Foto dok BRI}

ABNnews – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi menyinggung teori dari penulis terkemuka dunia, Brett King, saat buka-bukaan mengenai nasib industri perbankan yang kini berada di ambang transformasi baru era Artificial Intelligence (AI) dan Generative AI (Gen AI).

Hery mewanti-wanti bahwa bank akan menghadapi ancaman nyata ditinggal oleh nasabahnya jika menutup mata dari tren teknologi kecerdasan buatan tersebut.

Menurut Hery, perkembangan teknologi digital yang masif telah mengubah lanskap industri perbankan secara radikal. Layanan keuangan kini tidak lagi hanya bertumpu pada jaringan fisik kantor cabang, melainkan bergerak menuju model layanan yang semakin terhubung dengan ekosistem digital dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat perbankan perlu terus berevolusi agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku nasabah dan dinamika industri yang berkembang secepat kilat.

“Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh nasabahnya,” tegas Hery dalam sesi “Business Talks” pada ajang Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta (23/5/2026).

Dalam penjelasannya, Hery menyoroti bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah total pola interaksi nasabah, model distribusi layanan, hingga peta kompetisi industri keuangan. Mengutip pandangan Brett King, ia memaparkan perjalanan bank yang terbagi dalam empat fase penting.

Fase pertama bermula pada era Bank 1.0, di mana layanan dasar bank masih sangat konvensional dan transaksinya hanya bertumpu pada penggunaan cek serta giro.

Evolusi kemudian bergerak ke era Bank 2.0 dengan munculnya penggunaan Automatic Teller Machine (ATM) yang sanggup melayani kebutuhan nasabah nonstop 7×24 jam.

“Kemudian Bank 3.0 itu adalah terkait juga dengan internet banking. Jadi nasabah mungkin tidak perlu lagi datang ke cabang bank misalnya, bagi nasabah korporasi, mereka bisa melakukan transaksi dari kantor dengan internet banking,” urai Hery.

Saat ini, industri keuangan telah menginjakkan kaki di era keempat atau Bank 4.0 yang didominasi oleh kehadiran financial technology (fintech) serta digitalisasi total.

“Nah digital ini memang sudah mengubah perilaku nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama dan juga yang ada di luar negeri,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Hery menyebutkan bahwa proses digitalisasi di sektor perbankan berjalan di luar perkiraan lantaran mendapat momentum dari pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Krisis kesehatan tersebut memaksa masyarakat yang awalnya gagap teknologi (gaptek) untuk beralih menggunakan layanan mobile banking.

“Itu nasabah kan tidak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek, tidak bisa menggunakan mobile banking, terpaksa menggunakan mobile banking, karena tidak bisa datang ke ATM, tidak bisa datang ke cabang, tidak bisa transaksi di teller dan seterusnya,” kenang Hery.

Melihat fenomena pergeseran perilaku nasabah yang radikal ini, Hery sepakat dengan kutipan legendaris Brett King yang menyebut esensi bank modern sesungguhnya telah bergeser menjadi perusahaan berbasis teknologi.

“Nah apa yang dilakukan bank, menurut Brett King, bank is a technology company with a banking license. Sebenarnya bank itu technology company,” pungkas Hery sembari menegaskan bahwa dengan kondisi seperti saat ini, perbankan nasional sama sekali tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *