ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) blak-blakan mengenai ketergantungan industri terhadap pasokan luar negeri. Kemenperin mencatat, total kebutuhan bahan baku untuk industri pengolahan susu di dalam negeri saat ini menembus angka sekitar 5 juta ton setara susu segar per tahun.
Mirisnya, dari total kebutuhan yang sangat masif tersebut, sebanyak 80 persen di antaranya ternyata masih harus dipenuhi lewat keran impor.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa susu merupakan komoditas strategis yang memegang peranan krusial dalam menyokong ketahanan pangan sekaligus mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Menyadari rapor hulu yang masih timpang, momentum Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 ini dijadikan pemantik untuk mempercepat hilirisasi, meningkatkan kualitas bahan baku, serta mengikat kemitraan yang lebih erat antara pabrik pengolahan susu dan para peternak lokal.
“Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan,” ujar Agus Gumiwang di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Merujuk pada data World Population Review, angka konsumsi susu masyarakat Indonesia memang masih memprihatinkan, yakni bertengger di kisaran 17,76 liter per kapita per tahun. Angka ini tercatat masih kalah jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Guna memangkas ketergantungan kronis terhadap impor tersebut, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menegaskan pentingnya memperkuat rantai pasok dari hulu. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan pabrik pengolahan susu harus dipaksa terintegrasi secara produktif dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kemenperin diam-diam telah mengintervensi sektor hulu lewat digitalisasi Tempat Penerimaan Susu (TPS) serta pembagian teknologi cooling unit (mesin pendingin).
Hingga akhir 2024 saja, program digitalisasi berbasis teknologi ini sudah sukses dicangkok ke 96 TPS yang bernaung di bawah sembilan koperasi besar di Jawa Barat dan Jawa Timur, dengan merangkul lebih dari 12.000 peternak sapi perah.
Tak sampai di situ, Kemenperin juga menelurkan aplikasi khusus pemantauan pasokan susu segar dalam negeri. Aplikasi ini berfungsi mendeteksi secara real-time ketersediaan bahan baku di tingkat koperasi melalui mesin dan peralatan digital.
Langkah ini diharapkan dapat melejitkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas dalam rantai pasok industri susu nasional.
Bahkan, pemerintah juga merilis jaminan insentif menggiurkan lewat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024 tentang Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman.
Melalui regulasi ini, negara siap memberikan skema reimbursement alias pengembalian modal hingga 35 persen untuk pembelian mesin dan peralatan digital baru.
Fasilitas potongan biaya yang besar ini sengaja diberikan baik bagi industri pengolahan susu raksasa maupun koperasi dan kelompok peternak kecil yang menjadi mitra industri di lapangan.
Melihat dinamika ke depan, Putu sangat optimistis masa depan industri pengolahan susu dalam negeri akan cerah dan semakin mandiri.
Selain dipicu oleh kenaikan pendapatan dan tren gaya hidup sehat masyarakat, bergulirnya program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dipercaya akan menjadi katalisator luar biasa bagi datangnya investasi baru.
“Meningkatnya pendapatan masyarakat, tren gaya hidup sehat, dan pelaksanaan program MBG diyakini akan menjadi katalisator bagi peningkatan investasi dan produktivitas industri pengolahan susu nasional,” tandas Putu.













