banner 728x250

Tak Bisa Instan Naikkan Harga Jual, Pengusaha Manufaktur Pilih Timbun Bahan Baku

Ilustrasi (Foto: rakgudangheavyduty.com)

ABNnews – Para pelaku pengusaha manufaktur di Indonesia terpaksa memutar otak di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Lantaran tidak bisa secara instan menaikkan harga jual produk ke konsumen, jalan keluar yang dipilih para pelaku industri saat ini adalah dengan mempertebal stok atau menimbun pasokan bahan baku demi mengamankan napas operasional pabrik.

Langkah defensif yang diambil para pengusaha ini ternyata memberikan dampak langsung pada pergerakan indeks ekonomi nasional.

Berdasarkan laporan terbaru S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Mei 2026 sukses merangkak naik ke level 50,0 dari bulan sebelumnya yang sempat terkontraksi di level 49,1. Kenaikan ini menandakan kondisi operasional industri dalam negeri kembali masuk ke ambang batas zona ekspansi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membenarkan fenomena penimbunan cadangan bahan baku impor tersebut.

Menurutnya, langkah mitigasi ini diambil pelaku usaha karena industri membutuhkan waktu dan tidak bisa serta-merta mengerek harga jual produk ke pasar ketika beban biaya produksi mulai membengkak.

“Perusahaan manufaktur harus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan produksi dan daya saing harga produk. Ketika harga bahan baku berpotensi meningkat, mereka memilih mengamankan pasokan terlebih dahulu karena penyesuaian harga jual ke pasar tidak bisa dilakukan secara instan,” beber Agus di Jakarta, dikutip Selasa (2/6/2026).

Agus menjelaskan, perbaikan performa PMI manufaktur di bulan Mei ini memang harus dibaca secara jeli. Salah satu roda penggeraknya adalah masifnya aktivitas pembelian untuk menaikkan persediaan (inventory) bahan baku sebagai benteng perlindungan dari ancaman kelangkaan logistik global serta lonjakan harga bahan baku impor.

Hal ini menjadi krusial mengingat postur industri tanah air masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Struktur impor Indonesia saat ini didominasi oleh bahan baku dan bahan penolong yang porsinya mencakup 70 persen, disusul barang modal seperti mesin sebesar 15 persen, dan sisanya baru barang konsumsi.

Maka dari itu, Kemenperin mencatat ada pergeseran perilaku pengusaha yang cukup signifikan. Jika dalam kondisi normal pabrikan rata-rata hanya menimbun persediaan bahan baku untuk kebutuhan produksi tiga bulan, kini banyak perusahaan yang menaikkan cadangan logistiknya agar aman menopang operasi hingga enam bulan ke depan.

Strategi mempertebal stok ini dinilai mutlak dilakukan, khususnya bagi sektor industri yang memiliki karakteristik proses produksi berkelanjutan (continuous process industry). Sebagai contoh, pabrik petrokimia raksasa harus terus menyala dan beroperasi pada kapasitas minimal 50 hingga 60 persen agar fasilitas produksinya tidak mati total.

“Jika fasilitas produksi seperti petrokimia dihentikan total, waktu yang dibutuhkan untuk kembali mencapai kapasitas normal bisa cukup lama, paling sedikit sekitar dua minggu. Kondisi serupa juga terjadi pada industri yang menggunakan furnace (tungku peleburan) seperti industri keramik, kaca, dan pengolahan nikel. Oleh karena itu, menjaga ketersediaan bahan baku menjadi sangat krusial,” tegas Agus.

Di sisi lain, tren positif PMI Manufaktur ini juga berjalan beriringan dengan rapor Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode Mei 2026 yang ikutan melejit ke level 53,56 dari sebelumnya 51,75 pada April 2026.

Lompatan ini memberikan sinyal kuat bahwa di balik tekanan global yang mendera, para pelaku usaha masih mengantongi rasa optimisme yang tebal terhadap geliat pasar dan kuatnya permintaan domestik.

S&P Global mencatat, sokongan utama performa industri bulan ini memang datang dari derasnya arus permintaan baru di pasar lokal. Kendati demikian, Kemenperin menegaskan akan terus mengawal ketat dan memperkuat koordinasi dengan para pengusaha guna memastikan jalur pasokan bahan baku tetap lancar demi menjaga daya saing manufaktur RI di kancah internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *