ABNnews – Pemerintah terus memacu langkah menuju ketahanan dan swasembada energi nasional di tengah gempuran dinamika geopolitik global.
Langkah taktis ini ditempuh lewat percepatan eksplorasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) demi mengejar target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2029 mendatang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara terbuka menggelar karpet merah investasi lewat lelang sejumlah Wilayah Kerja (WK) Migas potensial.
“Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh (ikut). Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting kalian punya teknologi, kalian punya uang, kalian punya keseriusan. Silakan mengelola hasil yang ada untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” tegas Bahlil saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention dan Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Hingga Mei 2026, Kementerian ESDM sukses mengidentifikasi 118 WK Migas potensial di seluruh penjuru tanah air. Kabar baiknya, Bahlil baru saja menyaksikan langsung penandatanganan kontrak untuk 8 WK hasil lelang tahun 2025 dengan total nilai komitmen pasti menembus USD 57,95 juta (sekitar Rp 927 miliar) dan bonus tanda tangan USD 3,15 juta.
Delapan blok tersebut diperkirakan menyimpan harta karun raksasa sebesar 255 juta barel minyak dan 13,79 Trillion Cubic Feet (TCF) gas.
Berikut adalah rincian daftarnya:
1. WK Gagah (Onshore Sumatera Selatan): Menyimpan potensi 173 juta barel minyak dan 1,1 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 4,25 juta.
2. WK Bintuni (Onshore/Offshore Papua Barat): Potensi sumber daya mencapai 2,1 TCF gas. Nilai komitmen pasti jumbo USD 16,55 juta.
3. WK Karunia (Onshore/Offshore Sumut dan Riau): Potensi 82 juta barel minyak dan 0,13 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 9,9 juta.
4. WK Drawa (Offshore Papua Barat & Papua Barat Daya): Potensi daya 0,36 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 6,45 juta.
5. WK Jalu (Offshore Laut Andaman): Kantongi potensi daya 2,9 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 6,6 juta.
6. WK Southwest Andaman (Offshore Laut Andaman): Menyimpan sumber daya potensial 3 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 8,2 juta.
7. WK Barong (Offshore Jawa Timur & Sulsel): Potensi daya 2,9 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 2,5 juta.
8. WK Nawasena (Onshore/Offshore Jawa Timur): Potensi sumber daya 1,3 TCF gas. Nilai komitmen pasti USD 3,5 juta.
Melihat tingginya minat investor, Bahlil mengingatkan agar kue ekonomi ini tidak dinikmati secara sepihak. Mantan Kepala BKPM ini mendorong agar para pengusaha migas lokal di daerah diberikan kesempatan yang sama untuk unjuk gigi menjadi kontraktor di wilayahnya sendiri.
“Agar pengusaha-pengusaha daerah itu harus dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta semua. Jadikanlah orang daerah itu menjadi tuan di negerinya sendiri selama (mereka) profesional,” cetusnya.
Tak hanya itu, Bahlil juga memberikan peringatan keras kepada jajaran internal Kementerian ESDM dan SKK Migas agar tidak berbelit-belit dalam melayani para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Birokrasi yang lambat dinilai hanya akan menghambat mimpi swasembada energi.
“Saya minta jangan lagi diperlambat investor di KKKS. Di hulu migas ini resikonya besar, jangan dipersulit, harus dipermudah. Tapi kalau pengusahanya sudah kita bantu, sudah sesuai aturan, tapi dia dalam implementasinya masih aneh-aneh, artinya perlu diluruskan,” pungkas Bahlil.













