banner 728x250

ASEAN Rapat Darurat! Bahas Nasib Harga Listrik dan Pangan Imbas Krisis Global

Foto dok Kemenko Perekonomian

ABNnews – Gejolak di Timur Tengah kian memanas dan mulai menebar ancaman bagi ekonomi dunia, tak terkecuali kawasan Asia Tenggara. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pun langsung “pasang badan” mewakili Indonesia dalam pertemuan darurat tingkat menteri ASEAN secara virtual, Rabu (30/4/2026).

Dalam pertemuan bertajuk Special AEC Council Meeting on the Middle East Crisis tersebut, pemerintah Indonesia membawa misi penting: memperkuat benteng pertahanan ekonomi regional di sektor energi, pangan, hingga rantai pasok.

Airlangga menekankan bahwa ASEAN tidak boleh tinggal diam melihat lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Menurutnya, diversifikasi jalur pasokan dan penguatan cadangan energi adalah harga mati agar tarif energi termasuk listrik tidak liar.

“Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi negara-negara ASEAN untuk merespons tekanan global yang kian meningkat, mulai dari lonjakan harga energi hingga risiko terhadap ketahanan pangan,” ujar Airlangga.

Indonesia juga mendorong percepatan proyek-proyek raksasa regional seperti ASEAN Power Grid (APG) hingga Trans-ASEAN Gas Pipeline (TAGP) agar kawasan lebih mandiri dan tahan banting.

Tak hanya soal bahan bakar dan listrik, urusan perut juga jadi perhatian serius. Di tengah melambungnya biaya logistik dan harga pupuk yang tidak menentu, Indonesia mendesak optimalisasi cadangan beras darurat alias ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR).

Langkah ini dinilai sangat krusial untuk memastikan pasokan pangan tetap aman dan harganya tidak mencekik masyarakat, terutama bagi kelompok yang paling rentan.

Agar arus barang tetap lancar meski kondisi dunia sedang “rusuh”, Airlangga meminta penguatan ASEAN Single Window. Efisiensi logistik harus ditingkatkan guna menjaga daya saing produk-produk asal Asia Tenggara di kancah internasional.

“Upaya-upaya ini perlu didukung dengan penguatan fasilitasi perdagangan guna memastikan kelancaran arus barang,” jelasnya.

Pertemuan ini turut dihadiri oleh para menteri perdagangan dan ekonomi dari seluruh negara anggota ASEAN, mulai dari Singapura, Malaysia, hingga Timor Leste.

Dalam Joint Statement yang dihasilkan, para menteri sepakat untuk menjaga keterbukaan perdagangan dan memastikan respons kebijakan yang terkoordinasi agar pertumbuhan ekonomi kawasan tidak “terseret” jatuh oleh krisis di Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *