ABNnews – Kongres Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (KMPI) terus menyerukan aksi Tangkap dan Adili Jokowi. Meskipun, gerakan mahasiswa dari berbagai kampus ini terus digembosi oleh aparat.
Juru bicara KMPI, Shandi Marta Praja mengatakan, aksi KMPI bergerak atas dasar solidaritas dari mahasiswa daerah yang menyampaikan problem di daerahnya masing-masing. Sehingga, menurutnya, tidak ada yang bisa menghentikan gerakan mahasiswa, sekalipun aparat kepolisian.
“Kawan-kawan daerah datang ke sini (Jakarta) membawa ide, menyampaikan kondisi di daerahnya yang banyak dieksploitasi. Lalu dalam berjalannya kegiatan ternyata polisi mengintervensi. Akhirnya kegiatan tidak berjalan sesuai rencana,” ungkap Shandi di Jakarta, dikutip Kamis, 10 Oktober 2024.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang itu menuturkan, penggembosan yang dilakukan oleh aparat kepolisian tidak membuat gerakan mahasiswa menjadi surut. Pasalnya, perwakilan mahasiswa yang datang dari berbagai kampus dilandasi oleh isu-isu kerakyatan.
“Lurus mengawal isu-isu rakyat dan menuntut agar Jokowi ditangkap dan diadili,” ungkapnya.
Lebih jauh Shandi memaparkan bahwa Jokowi telah menontonkan praktek-praktek KKN yang membuktikan kegagalan dari Pemerintah Pusat.
“Pertama nepotisme. Dari langkah dan kebijakan politik yang diambil Jokowi hingga hari ini, banyak rakyat yang menderita,” papar Shandi.
Kondisi tersebut menjadi landasan kuat bagi KMPI untuk menuntut tangkap dan adili Jokowi.

“Kita bicara soal kedaulatan. Apakah boleh Presiden setelah melakukan banyak penderitaan, memberikan banyak kemelaratan, kita biarkan begitu saja? Tegakkan hukum untuk mengadili Jokowi,” pungkas Shandi.
Diketahui, berbagai mahasiswa perwakilan kampus dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan NTT turut menghadiri KMPI di Universitas UNJ pada Senin 7 Oktober 2024.***













