Dunia  

Dunia Pantau Erupsi Gunung Anak Krakatau: BMKG Jepang Hingga Xinhua Buka Suara Soal Ancaman Tsunami

Erupsi Anak Krakatau terekam dari kokpit pesawat, kolom abu membumbung tinggi menembus awan di atas Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026)(Istimewa )

ABNnews – Peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mendadak jadi sorotan luas media internasional.

Lembaga seperti Japan Meteorological Agency (JMA) hingga kantor berita China, Xinhua, ikut buka suara dan memantau ketat potensi ancaman bahaya tsunami akibat letusan gunung api yang terletak di kawasan Lampung Selatan tersebut.

Meskipun mengalami erupsi beruntun yang disertai semburan lava pijar sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026), otoritas geologi nasional serta lembaga meteorologi internasional mengonfirmasi bahwa aktivitas vulkanik ini tidak memicu gelombang tsunami.

Kantor berita China, Xinhua, membeberkan bahwa fenomena pancuran lava (lava fountain) teramati jelas pada Sabtu dini hari. Xinhua mengulas bahwa status Gunung Anak Krakatau bertahan di Level III (Siaga) dengan batas radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.

“Warga tak perlu panik, tapi mereka harus terus waspada,” bunyi pernyataan resmi BNPB yang disiarkan Xinhua.

Badan Geologi Indonesia turut menegaskan kepada media China tersebut bahwa struktur tubuh Anak Krakatau pasca-erupsi 2018 relatif masih kecil, sehingga tidak memiliki potensi longsoran skala besar yang memicu tsunami.

Media Thailand, The Nation, menyoroti buletin Darwin Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) yang mencatat sebaran abu vulkanik telah mencapai flight level 500 atau setara ketinggian 15,2 kilometer di udara.

The Nation juga mengulas respons cepat Japan Meteorological Agency (JMA). Belajar dari tragedi erupsi Gunung Tonga pada 2022, JMA sempat menggelar pemantauan ketat sejak Sabtu pagi untuk mengantisipasi potensi tsunami atmosferik.

Namun, JMA mengonfirmasi secara resmi bahwa erupsi Anak Krakatau tidak menimbulkan dampak tsunami maupun perubahan air laut di kawasan Pasifik.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengimbau warga pesisir Banten dan Lampung agar tak panik meski terdengar dentuman keras, karena volume tubuh gunung saat ini belum cukup besar untuk memicu runtuhan penyebab tsunami.

Sementara itu, media asal Turkiye, Anadolu Agency, menyoroti rincian teknis seismik dari platform MAGMA Indonesia. Anadolu Agency mengutip keterangan Badan Geologi terkait rentetan gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga ke Pos Pengamatan Pasauran PGA.

Data seismograf mencatat aktivitas kegempaan erupsi memiliki amplitudo maksimum 33 milimeter dengan durasi 14 detik. Dentuman serta getaran ini dirasakan langsung oleh masyarakat di sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

Di sisi lain, akibat material letusan yang sempat merusak satu kamera pemantau di lokasi, BNPB menetapkan tiga langkah prioritas utama:

* Menegakkan zona larangan aktivitas radius 3 kilometer melalui patroli ketat pemda dan BPBD.

* Menyiapkan jalur evakuasi serta titik kumpul darurat di kawasan pesisir.

* Melarang keras warga mendekati area gunung berapi untuk berswafoto (selfie) atau merekam gambar erupsi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *