Opini  

Forum RT “Guyub Rukun Membangun Soliditas Merawat Kebhinekaan”

Cdl

Komjen Pol. (Purn.) Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana. (Foto: Dok. Pribadi)

ABNnews – “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Pepatah Jawa klasik ini menegaskan bahwa kerukunan akan membawa kesejahteraan dan kemuliaan hidup, sedangkan perselisihan hanya akan melahirkan kehancuran.

Namun, di tengah kenyataan hari ini, konsep ‘rukun’ kerap kali terlupakan dan seolah terkikis ketika ‘okol’ atau otot lebih mendominasi ketimbang akal sehat.

Di Indonesia, Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) sejatinya dibentuk sebagai wadah utama untuk membangun soliditas serta merawat kebhinekaan yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Sayangnya, fungsi RT dan RW kini bergeser. Banyak warga yang menganggap RT/RW sebatas petunjuk alamat tempat tinggal, sementara nilai dasar ‘rukun’ tak lagi menjadi basis utama dalam bermasyarakat.

Rasa kekerabatan (guyub) makin mengering, dialog antarwarga didominasi keluhan atau aksi saling menggunjing, dan kerukunan kerap dianggap sebagai sesuatu yang kuno.

Ancaman Premanisme dan Isu Primordial

Konsep kerukunan kerap kali mencederai ketika terjadi konflik perebutan atau pendistribusian sumber daya. Untuk mendapatkan dukungan dan legitimasi dengan cepat, pihak-pihak tertentu tak segan memanfaatkan isu-isu primordial. Akibatnya, nilai rukun sebagai landasan hidup bersama menjadi terabaikan.

Fenomena ini makin parah dengan hadirnya praktik ala premanisme yang mengagungkan filosofi “Asu gedhe menang kerahe” siapa yang kuat dan berteriak paling keras, dialah yang menang dan mendapat bagian paling banyak. Akal dikalahkan oleh otot, sementara keadilan digantikan oleh pemaksaan dan pemerasan.

Melihat fenomena nggasruh (ugal-ugalan) ini, mayoritas orang baik sering kali memilih diam (silent majority) bukan karena kalah, melainkan enggan berurusan dengan pihak yang mengandalkan kebiasaan mengotot.

Padahal, jika aparat penegak hukum dan penyelenggara negara ikut-ikutan melakukan praktik ‘pemalakan’ dan saling bertikai, peradaban dan nilai kebhinekaan sedang dipertaruhkan menuju kehancuran.

Cermin Ketamakan dalam Perang Baratayudha

Untuk merawat kebhinekaan dan kerukunan, masyarakat dapat memetik pelajaran berharga dari kisah epic Mahabarata dan Perang Baratayudha. Perang saudara yang menghancurkan sesama anak bangsa tersebut meletus akibat ketamakan, iri hati, dan hilangnya rasa rukun.

Akar masalah dari Perang Baratayudha mencakup serangkaian watak dan peristiwa kelam, di antaranya:

1. Keserakahan yang terus turun temurun. Dari dewi Setyawati, Destrarata, Gandari, Sangkuni hingga Duryudana dan para Kurawa.
2. Sikap iri hati terhadap prestasi Pandawa dan ingin merampas hak Pandawa sehingga ingin mencelakakan sampai ingin membunuhnya.
3. Kejumawaan Duryudana yang menimbulkan rasa dendam mendalam sejak usia kanak kanak.
4. Cinta buta dari Raja Destrarata dan Dewi Gandari serta Sangkuni yang memanjakan dan menghasut para Kurawa
5. Bisma yang Agung yang bersumpah membela dan menjaga tahta Hastinapura namun terbelenggu ketamakan Duryudana.
6. Guru Durna yang mengejar materi dan keduniawian bagi membahagiakan Aswatama anaknya sehingga terjebak pada hasutan Sangkuni dan Duryudana
7. Dendam Karna kepada para Pandawa terutama kepada Arjuna. Yang dimanfaatkan Duryudana sehingga terjebak pada sumpah dan janji persahabatanya.
8. Pembakaran Pandawa dan ibu Kunti di istana Warnabrata hanya demi tahta Hastinapura
9. Kekalahan Pandawa dalam permainan dadu dengan kelicikan Sangkuni yang berdampak pelecehan terhadap Drupadi maupun para Pandawa yang berdampak pada pengasingan Pandawa selama 12 tahun dan penyamaran selama 1 tahun.
10. Sumpah Drupadi yang mengutuk dan dendam terhadap Kurawa menjadi amarah yang menyulut perang Bharata Yudha
11. Sumpah Bima untuk membalas dendam dan menumpas seluruh Kurawa
12. Penghinaan terhadap Basudewa Krisna yang menjadi duta perdamaian yang ditolak Kurawa
13. Karma atas kutukan dari para tokoh tokoh Kurawa dari Bisma yang Agung, Guru Dorna, Raja Angga Karna, Raja Salya, Jayadrata, Duryudana, Dursasana, para Kurawa

Meneladani Jiwa Keutamaan

Di tengah pekatnya ketamakan Kurawa, kisah Mahabarata juga menampilkan cermin keutamaan. Tokoh seperti Bisma menunjukkan jiwa besar dengan merelakan haknya sebagai penguasa demi mengendalikan ambisi pribadi. Begitu pula Pandawa yang terus berupaya menahan amarah dan menjadikan hidupnya sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Kelekatan pada harta dan kekuasaan duniawi pada akhirnya hanya memicu penderitaan serta mengarahkan manusia pada ilusi dendam yang tak pernah puas. Oleh karena itu, rukun harus kembali dijadikan passion dan filosofi hidup bersama. Kerukunan bukan sekadar sikap diam karena sudah kebagian ‘jatah’, melainkan kesadaran untuk saling mengakui, menghargai, dan menerima keberagaman.

Tatkala manusia mengingat nilai-nilai keilahian dan terus melatih hati agar tetap tenang, amarah dan angkara murka akan terkendali. Memilih jalan tengah yang bijaksana jauh lebih utama daripada memelihara perdebatan yang memperuncing masalah. Sebab, ketika peradaban diabaikan dan aksi pemaksaan ala preman dibangga-banggakan, bangsa ini hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur (bubrah).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *