ABNnews – Pengamat politik Indra Jaya Piliang menyoroti maraknya fenomena pembangunan pagar tinggi di berbagai pusat perbelanjaan kawasan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Menurutnya, hal tersebut bukan sekadar pembatas area biasa, melainkan respons atas potensi ancaman keamanan dari kelompok perusuh yang digerakkan oleh ‘kekuatan hitam’.
Pandangan tersebut disampaikan Indra melalui unggahan di akun X (Twitter) pribadinya saat mengulas tren pengamanan fisik ketat di berbagai kawasan komersial.
Indra menilai keberadaan pagar-pagar tinggi itu menjadi cerminan nyata dari menurunnya kepercayaan para pengelola mal terhadap kemampuan aparat kepolisian saat menghadapi situasi darurat.
“Fenomena pagar tinggi untuk mal-mal di kawasan Jakarta-Tangerang-Bekasi adalah bukti betapa para pengelola mal-mal itu sudah tak lagi percaya kepada aparatur keamanan, jika keadaan darurat datang,” tulis Indra, dikutip Senin (3/8/2026).
Lebih jauh, Indra meluruskan dugaan mengenai siapa ancaman sebenarnya yang dikhawatirkan para pengelola mal. Ia menegaskan bahwa ancaman tersebut sama sekali bukan bersumber dari aksi demonstrasi massa maupun masyarakat miskin perkotaan.
“Bukan massa aksi. Tapi para perusuh yang digerakkan kekuatan hitam,” tegasnya.
Ia juga menolak keras stigma negatif terhadap warga kurang mampu di perkotaan. Menurut penilaiannya, kelompok masyarakat tersebut justru memiliki nilai-nilai kemanusiaan serta religiusitas yang tinggi.
“Bukan juga massa miskin kota yang kita tahu punya sisi humanisme dan relegiusitas yang tinggi,” lanjut Indra.
Indra memandang langkah pengelola mal membangun benteng serta pagar tinggi sebagai bentuk adaptasi para pelaku ekonomi demi melindungi aset dan investasi mereka secara mandiri ketika menghadapi risiko keamanan.
“Pagar tinggi itu semacam manifesto betapa para pelaku ekonomi kudu mampu lindungi diri sendiri, dalam hal ini aset dan properti di dalamnya,” kata Indra.
Meski Indra tak mengurai secara spesifik peristiwa atau kondisi tertentu yang menjadi pemicu munculnya pandangan tersebut, ia menilai tren ini menjadi gambaran jelas bagaimana para pelaku usaha kini lebih memilih mengandalkan pengamanan mandiri untuk menjaga properti mereka.












