Opini  

Mualaf atau Bukan

Catatan Cak AT

Setiap penulis yang baik mesti bersedia memperbaiki tulisannya ketika fakta baru datang. Kemarin saya menulis obituari John L. Esposito. Dalam tulisan itu saya menyebut dengan tegas bahwa “Esposito bukan Muslim.” Tulisan itu sudah terbit dan dibaca banyak orang.

Ada fakta baru. Malam harinya, satu pesan WhatsApp masuk dari KH Mukhlisin Sa’ad. Bersama pesan itu terkirim sebuah tangkapan layar. Isinya mengejutkan. Beredar kabar, dari Maroko hingga Malaysia, bahwa John L. Esposito telah mengucapkan syahadat sebelum wafatnya di hadapan Hamza Yusuf dan Jean, istri Esposito.

Di bawah tangkapan layar itu ditulis pesan singkat: “Mungkin antum bisa memberikan informasi ini kepada Ahmadie Thaha, syukran.” Di bawahnya ada tambahan penjelasan sumber informasi. “Informasi ini saya dapat dari WA Prof Wan Daud dari group Naquib Al Attas, syukran.”

Saya masih belum dapat memastikn apakah Hamza Yusuf sendiri atau istri Esposito pernah mengonfirmasi pernyataan tersebut. Juga belum menemukan informasi mengenai rincian prosesi penguburannya.

Saya pun membaca ulang tulisan saya. Maka, kalau kabar itu benar, saya berkewajiban memperbaiki tulisan saya dan meminta maaf kepada para pembaca. Tetapi kalau kabar itu belum dapat dipastikan, saya juga tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta.

Di sinilah seorang penulis diuji. Saya kemudian mencoba menelusuri kembali berbagai sumber yang tersedia. Di antaranya, saya menemukan laporan bahwa Imam Abdul Malik Mujahid, sahabat dekat Esposito, mengumumkan kewafatannya setelah berbicara dengan istri Esposito, mengenai waktu dan sebab wafatnya.

Sampai tulisan ini selesai saya susun, saya belum menemukan pernyataan resmi dari Georgetown University, keluarga John Esposito, maupun kolega terdekatnya yang dapat memastikan bahwa beliau mengucapkan syahadat sebelum wafat.

Sebaliknya, saya juga belum menemukan bantahan resmi yang secara tegas menyatakan bahwa kabar itu pasti tidak benar.

Artinya, ada dua arus informasi yang berjalan bersamaan. Yang satu menyebarkan kabar keislaman Esposito melalui jejaring tokoh-tokoh Muslim. Yang lain hanya memberitakan wafatnya tanpa menyebut sedikit pun adanya perpindahan agama.

Karena itu saya memilih bersikap hati-hati. Saya tentu bergembira bila suatu hari nanti kabar itu terbukti benar. Tetapi kegembiraan tidak boleh menggantikan verifikasi.

Saya jadi bertanya, mengapa banyak kaum Muslim berharap Esposito wafat sebagai Muslim? Karena selama hidupnya ia telah memperlakukan Islam dengan keadilan yang jarang diberikan banyak sarjana Barat. Harapan itu adalah ungkapan cinta. Tetapi cinta tidak boleh menggantikan fakta.

Menariknya lagi, ketika saya membaca ulang berbagai obituari tentang John Esposito, perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jauh lebih penting daripada perdebatan mengenai status agamanya.

Muslim Network TV memberi judul obituarinya: _”John Esposito, who let a billion Muslims speak for themselves.”_ John Esposito adalah orang yang membiarkan satu miliar Muslim berbicara dengan suara mereka sendiri.

Kalimat itu menurut saya merangkum seluruh perjalanan intelektualnya. Selama lebih dari lima puluh tahun Esposito berusaha mengubah cara Barat memandang Islam.

Ketika banyak orang menjelaskan Islam melalui lensa konflik, ancaman keamanan, atau benturan peradaban, Esposito memilih mendengar umat Islam menjelaskan dirinya sendiri.

Ia menolak menjadikan hampir dua miliar Muslim sebagai satu kategori yang seragam. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Muslim hanya dapat dipahami melalui sejarah, budaya, pengalaman sosial, dan aspirasi mereka sendiri, bukan melalui prasangka yang dibangun dari luar.

Karena itu ia tidak hanya menulis buku. Ia mendirikan _Center for Muslim-Christian Understanding_ di Georgetown University. Inilah yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kajian Islam dan dialog lintas agama paling berpengaruh di dunia.

Ia juga mendirikan _Bridge Initiative_ (Prakarsa Jembatan), sebuah proyek penelitian yang hingga kini menjadi salah satu rujukan utama dalam mendokumentasikan Islamofobia di Amerika Utara dan Eropa.

Ia memimpin penyusunan sejumlah karya referensi yang menjadi fondasi studi Islam modern, antara lain _The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World_, _The Oxford Dictionary of Islam_, _The Oxford History of Islam_, dan _The Oxford Encyclopedia of the Islamic World_.

Bersama Dalia Mogahed, Esposito menulis _Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think_. Buku itu lahir dari survei Gallup terhadap puluhan ribu responden Muslim di berbagai negara.

Pesannya sederhana tetapi revolusioner: kalau ingin mengetahui apa yang dipikirkan umat Islam, tanyakan kepada mereka, bukan kepada stereotip yang berkembang di media.

Karena sikap akademiknya itulah Esposito dihormati di dunia Islam. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengenangnya bukan sekadar sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai sahabat yang telah dikenalnya lebih dari lima puluh tahun.

Anwar menyebut Esposito sebagai orang yang membangun jembatan ketika banyak orang memilih membangun tembok.

Council on American-Islamic Relations (CAIR) juga menyampaikan belasungkawa resmi. Organisasi itu menyebut Esposito sebagai seorang akademisi luar biasa, sahabat yang penuh empati, dan suara yang konsisten membela kebebasan beragama, kerja sama lintas iman, dan martabat setiap manusia.

Imam Abdul Malik Mujahid mengenang sisi lain Esposito. Menurutnya, di balik puluhan buku dan reputasi internasionalnya, Esposito tetap orang yang mudah dihubungi.

Esposito selalu mengangkat telepon ketika imam, aktivis, mahasiswa, atau siapa pun membutuhkan nasihat. Baginya, membangun hubungan antarmanusia sama pentingnya dengan menulis buku.

Tidak mengherankan bila kepergiannya disambut duka dari begitu banyak tokoh dan lembaga Muslim.

Justru karena kedekatan itulah, saya memahami mengapa kabar tentang kemungkinan beliau mengucapkan syahadat begitu cepat menyebar dan begitu mudah dipercaya.

Harapan sering berjalan lebih cepat daripada verifikasi. Namun sebagai penulis, saya harus membedakan keduanya.

Sampai hari ini saya belum memiliki dasar yang cukup untuk menulis bahwa John Esposito wafat sebagai seorang Muslim alias mualaf.

Tetapi saya juga tidak memiliki dasar untuk mengejek atau mengabaikan informasi yang datang melalui jaringan tokoh-tokoh Muslim yang kredibel. Informasi itu layak dicatat dan ditelusuri, bukan langsung diterima, juga bukan langsung ditolak.

Kalau suatu hari nanti muncul bukti primer yang dapat diverifikasi bahwa John Esposito benar mengucapkan syahadat sebelum wafatnya, tulisan perlu diperbaiki secara terbuka. Itu bukan aib. Justru itulah kewajiban seorang penulis.

Sementara itu, ada satu hal yang sudah pasti dan tidak bergantung pada jawaban atas pertanyaan di judul tulisan ini.

Selama lebih dari setengah abad John L. Esposito menggunakan ilmu pengetahuan untuk melawan prasangka terhadap Islam. Ia mengajarkan Barat agar memahami umat Islam berdasarkan fakta, sejarah, dan pengalaman mereka sendiri, bukan berdasarkan rasa takut.

Warisan intelektual itulah yang membuat namanya dihormati oleh begitu banyak umat Islam di berbagai negara.

John Esposito mengingatkan kita bahwa Allah dapat menghadirkan pembela-pembela keadilan dari luar komunitas kita sendiri. Mereka mungkin tidak berada di dalam barisan kita, tetapi keberanian mereka membantu mengurangi prasangka dan membuka jalan dialog.

Dalam Al-Qur’an, Allah memang menunjukkan bahwa tidak semua pembela agama adalah orang yang berasal dari komunitas yang sama. Misalnya, Raja Najasyi memberikan perlindungan kepada kaum Muslim yang hijrah ke Habasyah. Salman al-Farisi mencari kebenaran dari satu guru ke guru lain sebelum masuk Islam.

Bahkan dalam sejarah Islam, banyak orientalis non-Muslim menghasilkan edisi manuskrip Arab yang hingga kini menjadi rujukan para ulama dan peneliti Muslim, meski pandangan mereka terhadap Islam tidak selalu sama.

Pelajarannya sederhana: kita menghargai jasa seseorang tanpa harus memastikan surga atau nerakanya. Soal amal akhirnya adalah urusan Allah. Tugas kita adalah berlaku adil terhadap fakta dan berterima kasih atas kebaikan yang nyata. Itu justru lebih dekat dengan adab ilmiah dan adab keagamaan.

Status agamanya pada akhir hayat adalah persoalan yang hanya dapat dipastikan dengan bukti yang sahih.

Tetapi jasa intelektualnya dalam membangun saling pengertian antara Barat dan dunia Islam sudah menjadi bagian dari sejarah yang tidak dapat dihapus.

Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 1/8/2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *