ABNnews – Kesepakatan gencatan senjata yang baru seumur jagung dipastikan ambyar setelah Iran kembali menutup jalur perairan strategis Selat Hormuz pada Minggu (21/6).
Langkah ekstrem Teheran ini langsung memicu amarah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menebar ancaman ngeri bakal melancarkan serangan militer yang jauh lebih keras ke Iran.
“Jika mereka tidak melakukannya (menghentikan Hizbullah), kami akan kembali menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan pekan lalu, hanya saja kali ini bakal jauh lebih keras lagi,” ancam Trump lewat akun resminya di platform media sosial Truth Social, dikutip Senin (22/6/2026).
Ketegangan baru ini memuncak setelah Iran memutuskan memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara Israel ke wilayah Lebanon.
Pihak Teheran menilai serangan sekutu dekat AS itu merupakan pelanggaran fatal terhadap nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata yang sebenarnya baru saja ditandatangani oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Donald Trump pada pekan lalu.
Tak tanggung-tanggung, dalam wawancara terpisah dengan stasiun televisi Fox News, Trump memberikan peringatan super keras yang menyasar eksistensi negara Iran jika nekat meneruskan pemblokiran jalur pasokan minyak dunia tersebut.
“Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian,” cetus Trump blak-blakan.
Selain melayangkan ancaman serangan militer, Trump juga memperbarui ultimatumnya agar Teheran segera menghentikan total dukungan dana dan persenjataan terhadap kelompok proksinya, Hizbullah, di Lebanon.
Saling gertak antara Washington dan Teheran ini terjadi di saat perang antara militer Israel dan Hizbullah masih terus berkecamuk di Lebanon, meskipun AS sendiri sempat mengumumkan deklarasi gencatan senjata pada Jumat lalu.
Di medan tempur darat, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan semakin kedodoran menghadapi perlawanan sengit Hizbullah di wilayah Lebanon Selatan.
IDF bahkan terang-terangan mengakui telah kehilangan sedikitnya empat tentaranya, termasuk seorang perwira, dalam pertempuran beberapa hari terakhir.
Sebagai balasan atas kerugian tersebut, jet-jet tempur Israel seketika meningkatkan intensitas serangan udara mereka ke berbagai wilayah Lebanon secara masif.
Sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas mengenaskan akibat pemboman brutal yang terjadi dalam sehari pada Sabtu (20/6) lalu.
Di akhir pernyataannya, Trump juga melontarkan gagasan kontroversial dengan menyebut AS bisa turun tangan menjadi “malaikat pelindung” di Selat Hormuz.
Namun, perlindungan itu tidak gratis. Trump menuntut keuntungan ekonomi, termasuk kemungkinan AS memungut jatah 20 persen minyak yang dihasilkan dari kawasan kaya energi tersebut.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami yang akan memungut biayanya,” pungkas Trump.












