Pasokan Bahan Baku AS Seret, 4.000 Pekerja Pabrik Pemasok Nike di Bandung Dirumahkan

Ilustrasi buruh pabrik. (Antara)

ABNnews – Dampak seretnya pasokan bahan baku dari Amerika Serikat (AS) memicu gangguan operasional serius di sektor industri alas kaki nasional.

Sebanyak 4.000 pekerja di salah satu pabrik besar pemasok sepatu merek global Nike di Bandung terpaksa dirumahkan akibat kendala logistik tersebut.

Langkah merumahkan ribuan buruh ini diambil sebagai dampak langsung dari keterlambatan distribusi rantai pasok global yang menghambat lini produksi manufaktur padat karya itu.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, membeberkan bahwa informasi tersebut diperoleh valid dari jajaran pengurus KSPN yang berada di pabrik terkait.

Kebijakan merumahkan sekitar 4.000 pekerja itu sudah mulai diberlakukan sejak tanggal 15 Juni 2026 kemarin, dari total keseluruhan 14.000 tenaga kerja yang menggantungkan hidup di perusahaan tersebut.

“Keterlambatan suplai bahan baku ini informasinya disebabkan karena sebelumnya disuplai bahan baku langsung oleh pihak Nike, tapi kemudian diserahkan ke vendor pihak ketiga, jadi mungkin ada hambatan teknis. Diperkirakan bahan baku baru tersedia bulan Juli,” ujar Ristadi dikutip detikcom, Jumat (19/6/2026).

Meskipun ribuan buruh terpaksa tidak beraktivitas di dalam area pabrik, Ristadi memastikan pihak manajemen perusahaan sejauh ini tetap kooperatif dalam memenuhi hak-hak normatif para pekerja yang terdampak.

Skema pembayaran gaji dipastikan berjalan sesuai dengan koridor hukum yang diatur dalam regulasi ketenagakerjaan di Indonesia.

“Selama dirumahkan pihak perusahaan tetap memberikan menjamin hak-hak normatif sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan, misal soal upah tetap diberikan kepada 4 ribu pekerja yang dirumahkan sebesar upah minimum yang berlaku,” jelas Ristadi.

Kendati hak upah masih aman, Ristadi mengaku pihak serikat buruh menaruh kekhawatiran yang jauh lebih besar. Ia cemas jika seretnya pasokan bahan baku tersebut bukan murni akibat kendala teknis logistik vendor, melainkan imbas dari tren penurunan permintaan (demand) produk Nike di pasar internasional.

Jika volume pesanan (order) dari prinsipal utama terus menyusut, kondisi tersebut ditakutkan bakal berujung pada langkah efisiensi yang lebih ekstrem bagi kelangsungan industri dalam negeri.

“Sehingga pihak Nike mengurangi ordernya, ini yang bisa berakibat fatal yaitu potensi terjadinya PHK massal tidak bisa terhindarkan, tapi semoga ini tidak terjadi,” tutur Ristadi cemas.

Ristadi menambahkan, industri padat karya yang masih menggantungkan pasokan bahan baku dari keran impor saat ini memang tengah megap-megap menghadapi tekanan berat kenaikan biaya operasional (cost of production), mulai dari harga bahan baku itu sendiri hingga biaya energi makro.

Situasi ini kian pelik lantaran daya beli masyarakat global dan domestik yang masih lesu, sehingga korporasi tidak memiliki ruang longgar untuk mengerek harga jual produk.

Oleh sebab itu, KSPN mendesak pemerintah untuk segera turun tangan memperkuat proteksi pertahanan industri manufaktur dalam negeri lewat serangkaian paket kebijakan taktis demi menjaga stabilitas iklim usaha dan keberlanjutan produksi nasional.

“Misalnya pengetatan importasi barang-barang yang sudah mampu diproduksi dalam negeri, stabilitas harga dan suplai energi industri, perizinan yang praktis cepat murah, pajak yang rasional dan penyiapan SDM tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha,” pungkas Ristadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *