banner 728x250

Tragis Bocah Perempuan di Sragen Tewas di Kamar, Jari Patah hingga Wajah Tak Berbentuk

Foto: TribunSolo.com/Mardon Widiyanto

ABnnews – Nasib tragis menimpa seorang bocah perempuan berinisial B (11), warga Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Bocah malang tersebut ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamar rumahnya dengan kondisi luka parah, mulai dari jari tangan yang patah hingga bagian wajah yang sudah tidak berbentuk akibat dugaan tindak kekerasan brutal.

Peristiwa berdarah ini pertama kali terbongkar oleh ibu kandung korban, Dewi, yang baru saja melangkah kaki pulang ke rumah usai membanting tulang di tempat kerjanya pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.

Sebelum ditemukan meregang nyawa, korban diduga kuat sedang berada seorang diri di dalam rumah. Saat kejadian memilukan itu berlangsung, sang ibu sedang bekerja shift di sebuah pabrik rokok, sementara ayah sambung korban, Sukadi, juga dilaporkan sedang tidak berada di tempat.

Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, mengungkapkan bahwa lingkungan di sekitar rumah korban memang relatif sepi dari pagi hingga sore hari lantaran mayoritas warga sekitar sibuk bekerja di luar rumah.

“Kedua orangtuanya sedang kerja, hanya korban di sini dia anak tunggal, ayah kandungnya meninggal dunia kemudian menikah lagi dengan Pak Sukadi,” kata Aris saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).

Misteri kematian anak tunggal ini terungkap saat Dewi membuka pintu rumahnya sore itu. Setibanya di dalam, pandangannya langsung tertuju pada tubuh putrinya yang sudah dalam kondisi tidak bernyawa secara tragis di area kamar tidur.

Menurut Aris, sang ibu seketika histeris dan menjerit sejadi-jadinya menyaksikan pemandangan memilukan tersebut.

Teriakan histeris Dewi sontak memecah kesunyian desa dan mengundang perhatian tetangga sekitar yang langsung berhamburan datang ke lokasi kejadian.

“Ibunya pulang dari kerja dari pabrik rokok pulang histeris, kemudian warga mulai berdatangan,” urai Aris. Laporan dari warga kemudian diteruskan secara berantai kepada pemerintah desa dan aparat kepolisian.

Mirisnya, saat ditemukan, korban masih melekat mengenakan seragam Pramuka lengkap. Aris mengaku sempat masuk dan melihat langsung kondisi korban setelah mendapat laporan dari warga yang panik.

“Ibu’e sudah histeris, terus saya masuk (rumah) kondisi jenazah seperti itulah, banyak bekas bacokan. Muka sama sini (tangan) dan sudah kering (lukanya). Tapi ada banyak bekas telapak kaki di lantai,” beber Aris.

Ia juga menambahkan bahwa luka yang dialami korban tergolong sangat parah dan di luar batas kemanusiaan.

“Banyak bekas luka, tangan dan muka yang tidak berbentuk, ada jari yang patah dan ditemukan korban masih mengenakan seragam Pramuka,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Hingga Jumat malam, jajaran Polres Sragen langsung bergerak cepat mengepungan lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara mendalam guna mengumpulkan sejumlah barang bukti krusial. Selain menemukan tanda-tanda kekerasan ekstrem, polisi juga menyoroti sejumlah fakta janggal di lokasi kejadian.

Aris menyebutkan, satu unit sepeda motor Honda Vario berwarna biru milik keluarga korban dilaporkan raib dari tempatnya semula saat peristiwa maut itu terungkap.

“Sepeda motor Vario biru tidak diketahui keberadaannya atau hilang hingga saat ini,” cetus Aris.

Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami secara intensif keterkaitan antara hilangnya kendaraan tersebut dengan kematian korban.

Petugas juga tengah menelusuri sejumlah petunjuk berharga yang tercecer di lokasi, termasuk temuan misterius berupa banyak bekas telapak kaki yang tampak kontras di atas lantai rumah korban.

Hingga kini, kepolisian belum merilis kesimpulan resmi mengenai penyebab maupun motif pasti di balik kematian keji bocah 11 tahun tersebut. Aparat terus melakukan pendalaman komprehensif demi memburu pelaku dan mengurai tabir rangkaian peristiwa berdarah ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *