Kutipan ini mengajarkan kita bahwa penampilan luar atau perasaan suka dan benci bukanlah penentu baik-buruknya sesuatu bagi hidup kita. Sesuatu yang kita kejar dan cintai bisa saja berbalik membawa luka, layaknya pisau tajam yang indah namun berbahaya jika salah digenggam.
Sebaliknya, hal yang kita benci atau hindari karena terasa berat dan menyakitkan sering kali merupakan “obat” pahit yang justru mendatangkan kebaikan dan kesembuhan di masa depan.













