ABNnews — Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai kondisi darurat kesehatan internasional. Penetapan wabah Ebola sebagai darurat kesehatan diumumkan WHO pada Minggu (17/05).
Ratusan orang terinfeksi dan setidaknya 80 orang tewas akibat wabah Ebola. “Wabah ini berpotensi menjadi wabah yang jauh lebih besar daripada apa yang terdeteksi dan dilaporkan saat ini, dengan risiko penyebaran lokal dan regional yang signifikan,” tulis pernyataan resmi WHO.
WHO memaparkan bahwa kombinasi antara krisis kemanusiaan, tingginya mobilitas warga, dan kondisi fasilitas kesehatan informal yang menjamur menjadi faktor utama yang mempercepat penularan virus mematikan ini.
Negara-negara yang berbatasan langsung dengan RD Kongo kini berada dalam status risiko tinggi akibat aktivitas perdagangan dan perjalanan yang intens.
Guna meminimalkan penyebaran, WHO menyarankan agar RD Kongo dan Uganda segera mendirikan pusat operasi darurat untuk memantau, melacak, dan menerapkan langkah pencegahan infeksi.
Otoritas kesehatan menekankan bahwa setiap negara harus memberlakukan karantina ketat bagi pasien bergejala sampai mereka benar-benar dinyatakan bersih dari virus melalui tes spesifik.
“Kasus konfirmasi harus segera diisolasi dan dirawat hingga dua tes spesifik virus Bundibugyo yang dilakukan terpisah setidaknya 48 jam menunjukkan hasil negatif,” tulis panduan medis WHO.
Bagi negara-negara yang berbatasan dengan wilayah terdampak, pemerintah diimbau untuk meningkatkan pengawasan dan pelaporan kesehatan. Namun, WHO menegaskan agar negara di luar kawasan tidak melakukan tindakan ekstrem yang dapat melumpuhkan sektor perekonomian global.
“Negara-negara di luar wilayah terdampak sebaiknya tidak menutup perbatasan mereka atau membatasi perjalanan dan perdagangan karena tindakan seperti itu biasanya diterapkan karena rasa takut dan tidak memiliki dasar ilmiah,” tambah badan tersebut.
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus turut menyuarakan kekhawatirannya mengenai validitas data riil di lapangan yang diduga jauh lebih besar dari laporan resmi.
“Ada ketidakpastian yang signifikan terhadap jumlah sebenarnya dari orang yang terinfeksi dan penyebaran geografis dari wabah ini,” tutur Ghebreyesus memperingatkan.
Ancaman kali ini dinilai jauh lebih mengerikan karena jenis Ebola yang merebak dipicu oleh virus Bundibugyo. Otoritas kesehatan internasional mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin yang disetujui untuk melawan varian virus tersebut.
Gejala awal penyakit ini dilaporkan muncul mendadak mirip flu seperti demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, yang kemudian diikuti oleh muntah, diare, ruam, hingga perdarahan hebat.
Kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan setelah hasil uji laboratorium mengonfirmasi penularan aktif telah meluas ke berbagai pusat keramaian dan kota tambang emas. WHO menyatakan kini ada delapan kasus yang dikonfirmasi laboratorium, dengan kasus suspek dan kematian lain tersebar di tiga zona kesehatan termasuk Bunia selaku ibu kota Provinsi Ituri, serta kota tambang emas Mongwalu dan Rwampara.
Satu kasus virus bahkan telah dikonfirmasi di ibu kota Kinshasa, yang diyakini menjangkiti seorang pasien yang baru kembali dari Ituri. Tidak hanya itu, virus ini tercatat sudah melintasi batas negara dengan ditemukannya dua kasus konfirmasi di negara tetangga, Uganda, di mana seorang pria berusia 59 tahun dilaporkan tewas pada hari Kamis setelah dinyatakan positif.
Pemerintah Uganda langsung mengambil tindakan cepat dengan memulangkan jenazah pasien tersebut ke negara asalnya untuk menekan risiko penularan lokal.
“Pasien yang meninggal dunia merupakan warga negara Kongo yang jenapahnya telah dikembalikan ke RD Kongo,” bunyi pernyataan resmi Pemerintah Uganda.













