banner 728x250

Intip Rencana Gila Kemenperin Bareng Airbus, Komponen Lokal Siap Guncang Rantai Pasok Global

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (Foto: Kemenperin)

ABNnews – Industri kedirgantaraan Indonesia bersiap lepas landas menuju babak baru yang lebih modern. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyambut gembira penandatanganan Joint Declaration of Intent antara Bappenas dan raksasa penerbangan dunia, Airbus SAS, yang digelar di Jakarta pada Rabu (6/5/2026).

Langkah konkret ini dinilai sebagai tonggak sejarah baru dalam membangun ekosistem industri dirgantara tanah air berbasis teknologi tinggi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa momen kerja sama dengan mitra global ini sangat pas. Pasalnya, performa industri manufaktur nasional saat ini sedang menunjukkan taji dan resiliensi yang positif.

Pada Triwulan I-2026 secara Year on Year (YoY), Industri Pengolahan (IP) sukses melesat sebagai mesin pertumbuhan tertinggi nasional dengan angka mencapai 5,04%, mengalahkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,55%. Sektor ini juga menyumbang kantong tebal senilai Rp 1.179,62 triliun atau 19,07% terhadap PDB nasional.

Potensi ini kian seksi mengingat pasar pesawat terbang global sedang berada di rekor tertinggi dengan pesanan mencapai 15.700 unit di seluruh dunia. Ditambah lagi, data IATA memproyeksikan Indonesia bakal menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Indonesia sendiri sudah punya modal kuat lewat PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Burung besi buatan anak bangsa tercatat punya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang sangat kompetitif, di antaranya: N219 TKDN mencapai 44,69%, NC212i TKDN mencapai 42,15%, CN235 TKDN mencapai 38,74% serta C295 TKDN mencapai 20,87%


Meski pasarnya menggiurkan, industri bengkel perawatan pesawat (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO) sempat terengah-engah akibat armada yang beroperasi menyusut menjadi 578 unit pada 2025 serta tingginya biaya operasional.

Sebagai juru selamat, pemerintah langsung memberikan stimulus ngeri berupa obral insentif penurunan tarif bea masuk menjadi 0% atas suku cadang pesawat melalui Skema Khusus Bab 98.

“Kebijakan ini mencakup 148 pos tarif dan 448 jenis barang serta bahan, sehingga biaya perawatan dan perbaikan pesawat dapat menjadi lebih efisien,” beber Agus Gumiwang.

Lewat deklarasi bersama Airbus ini, Kemenperin berkomitmen penuh mengawal transformasi dirgantara melalui 3 instrumen kebijakan utama:
1. Penetapan Skala Prioritas: Memasukkan industri kedirgantaraan ke dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional.

2. Peningkatan Investasi: Mengguyur insentif fiskal dan nonfiskal hingga pembebasan larangan pembatasan impor.

3. Penguatan Rantai Pasok: Menggenjot 12 perusahaan komponen lokal di bawah INACOM agar semuanya bisa tersertifikasi standar internasional (AS9100).


“Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan kerangka kerja, tetapi juga menghadirkan alih teknologi nyata, peningkatan kandungan lokal, penguatan SDM dirgantara, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global,” pungkas Menperin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *