ABNnews – Presiden Prabowo Subianto lagi rajin-rajinnya terbang ke luar negeri demi urusan diplomasi. Pekan ini, Negeri Sakura jadi tujuan utama. Namun, Ekonom senior Indef yang juga Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, mewanti-wanti agar kunjungan ini jangan cuma jadi “diplomasi sambilan” alias formalitas belaka.
Menurut Didik, hubungan ekonomi Indonesia-Jepang yang sudah berumur setengah abad itu sangat krusial. Kenapa? Karena sifatnya yang saling melengkapi alias win-win solution.
“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer. Kedua negara mendapat manfaat optimal untuk mengembangkan cadangan devisa masing-masing,” tutur Didik, Senin (30/3/2026).
Beda Sama China yang Saling ‘Makan’
Didik memberikan perbandingan yang cukup menohok. Berbeda dengan Jepang, perdagangan dengan China justru bersifat substitusi atau saling menggantikan. Artinya, produk kita dan mereka seringkali sama, sehingga berujung pada persaingan yang saling mematikan.
“Indonesia dan China punya produk ekspor yang sejenis, seperti pertanian dan manufaktur. Masalahnya, produk domestik kita sering kalah saing karena barang China harganya jauh lebih murah,” jelasnya.
Efeknya nggak main-main, Muncul fenomena deindustrialisasi dini, di mana industri dalam negeri layu sebelum berkembang. Bahkan, banyak UMKM kita yang pelan-pelan berubah haluan dari produsen menjadi sekadar distributor barang impor asal China.
Jepang Masih ‘Raksasa’ yang Menjanjikan
Meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang tergolong rendah, Didik mengingatkan bahwa skala ekonomi mereka tetaplah raksasa, bersaing dengan AS, China, dan India. Jepang butuh energi, batubara, hingga produk perikanan dari Indonesia. Sebaliknya, kita butuh mesin dan teknologi tinggi dari mereka.
Kerja sama seperti ini jauh lebih bermakna karena ada transfer teknologi dan penguatan manufaktur, seperti di sektor otomotif dan elektronik. Indonesia pun bisa masuk ke dalam rantai pasok global (global value chain).
“Tim ekonomi Indonesia pasca-kunjungan harus merancang promosi kerja sama dengan Jepang karena sifatnya yang saling menguntungkan ini. Ada penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur di sana,” pungkas Didik.













