“Empat Musim Pertiwi” di Tokyo, Kamila Andini Bahas Monster hingga UFO

Nadzar Lendi

Foto : Antara foto

ABNnews – Sutradara dan Produser film “Empat Musim Pertiwi” (Four Seasons in Java) Kamila Andini serta Ifa Isfansyah tengah berdiskusi tentang film teranyar mereka di Tokyo International film festival 2026 pada Jumat (30/10).

Kamila Andini pun tak lupa mengucapkan Terima kasih kepada para penonton yang telah menyaksikan film yang ia sebut istimewa di matanya, usai pemutaran film tersebut.

“Ini salah satu film yang mungkin paing sulit yang pernah saya buat. Jadi terima kasih sudah datang dan berdiskusi soal topik ini,” kata putri sutradara Garin Nugroho itu dalam bahasa Inggris Minggu (31/10/2026), dilansir dari Antara.

Pagelaran Empat Musim Pertiwi jadi bagian program CROSSCUT ASIA+, inisiatif TIFF dan Japan Foundation, yang menghadirkan kurasi dari programmer film Asia Tenggara dan Jepang. Kali ini, programmer Raslene dari Indonesia dan Ueda Masayuki dari Jepang memilih enam film dengan tema Side by Side.

Empat Musim Pertiwi yang dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim mengisahkan Pertiwi yang kembali ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara yang panjang. Di desa yang terasa menyesakkan, ia mencari cara untuk kembali menjalani hidup bersama orang-orang lain yang juga tersisih.

Istri dari Ifa Isfansyah itu menjawab rasa penasaran penonton soal makna monster dan UFO yang menjadi bagian dalam film. Ia menjelaskan, sosok monster misterius dalam film adalah simbol dari trauma penyintas kekerasan seksual yang mengendap di dalam diri setelah kekerasan terjadi. Sosok tersebut hanyalah bisa dilihat oleh sesama penyintas.

Kamila menggabungkan berbagai bentuk karakter untuk menciptakan sosok monster yang sebagian besar hanya terlihat sebagai siluet. Sosok aslinya, yang serupa dengan harimau, hanya terlihat sekejap di dalam film.

“Penonton bisa lihat kepalanya, mungkin terlihat seperti harimau, tapi sebenarnya itu kombinasi banyak hal, tangannya seperti (kaki) buaya, ada juga bentuk amuba,” jelas dia.

Sosok harimau dipilih karena ada hubungannya dengan kebudayaan Jawa, dianggap sebagai entitas spiritual yang dihormati. Pilihan ini juga berhubungan dengan hadirnya Reog Ponorogo sebagai bagian dari cerita.

Sementara soal UFO, yang juga banyak diperbincangkan warganet, Kamila mengibaratkan kisah soal UFO serupa dengan kisah kekerasan seksual.

“Idenya adalah, saya menemukan bahwa ketika saya mengikuti kisah soal kekerasan seksual, cerita itu sulit dibuktikan. Jadi sama seperti sulit membuktikan UFO itu nyata atau tidak. Jadi, pada akhirnya seperti mengatakan bahwa ini memang nyata, kekerasan seksual itu nyata.”

Ada harapan yang disematkan Kamila pada sosok Pertiwi, itu juga menjadi alasan mengapa akhirnya Pertiwi bisa melanjutkan hidupnya setelah menjadi korban dari sistem.

Dalam adegan lain, Pertiwi yang diperankan Putri Marino juga menulis soal puisi. Seorang penonton menanyakan soal kesamaan itu dengan film Kamila sebelumnya, Yuni.

Menurut Kamila, film menjadi caranya untuk memahami sesuatu.

“Itulah mengapa saya suka menggambarkan orang yang cari observasi, mencoba mempertanyakan dunia dan memahami dunia,” ujar sutradara yang sudah akrab dengan puisi sejak kecil.

Baginya, puisi adalah cara yang menarik untuk memahami sesuatu. Rasa itu ia tuangkan menjadi karakter yang menggunakan puisi untuk mengerti pikiran mereka sendiri.

“Itu salah satu cara mengekspresikan pemikiran,” katanya.

Bertahun-tahun

Film ini digarap dalam waktu yang tidak sebentar. Kamila menghadirkan berbagai representasi dalam karakter-karakternya. Ada seorang gadis tuli, ada juga karakter yang mengidap skizofrenia. Kamila mengungkapkan, ini adalah perjalanan untuk memahami banyak hal yang membutuhkan berbagai sudut pandang.

“Makanya dalam film ini kami berkolaborasi dengan banyak pihak, terutama komunitas-komunitas saat riset,” ujarnya, seraya menyebutkan bahwa orang-orang dari berbagai latar belakang turut diajak membaca dan mendiskusikan skenario.

Komunitas tuli dan skizofrenia juga dilibatkan.

“Film ini bicara soal kekuatan kolektif, jadi saya kira semangat kolektif itu juga kami pertahankan dalam film.”

Sementara itu, produser Ifa Isfansyah mengatakan ide film ini lahir tahun 2017. Namun, sebagai produser ia merasa butuh waktu untuk mempersiapkan karya ini karena kala itu ia masih merintis menjadi produser.

“Kami mulai mengerjakan proyek lain sampai 2023, lalu kami mulai fokus mengembangkan ini karena menurut saya ini film yang penting, dan saya pikir saya tidak bisa mengerjakannya sendirian, jadi saya butuh banyak kolaborator untuk memproduksi film ini.”

Ia bersyukur ada banyak pihak yang mendukung ide film ini dan percaya atas visi Kamila hingga akhirnya Empat Musim Pertiwi tercipta.

Empat Musim Pertiwi merupakan film terbaru garapan Kamila Andini yang mengangkat kisah tentang kepulangan dan usaha seorang perempuan untuk kembali menata hidupnya. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.

Ceritanya berfokus pada Pertiwi yang diperankan oleh Putri Marino, ia akhirnya kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara dan meninggalkan desa tersebut selama 20 tahun.

Namun, kepulangannya ternyata tidak disambut seperti yang diharapkan. Keluarga dan warga sekitar masih menyimpan ingatan tentang masa lalu Pertiwi sehingga ia harus menghadapi penolakan ketika mencoba kembali ke kehidupan lamanya.

Pulang bagi Pertiwi bukan sekadar kembali ke tempat asal. Keputusan tersebut juga berarti membuka kembali peristiwa yang pernah membawanya ke penjara. Kali ini, ia memilih untuk menghadapi masa lalu yang selama ini berusaha ditinggalkan.

Di tengah kondisi tersebut, Pertiwi menemukan orang-orang yang bersedia menerimanya. Mak Ira (Christine Hakim), Bisma (Arya Saloka), dan Niken (Hana Malasan) menjadi sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan Pertiwi setelah kembali ke desa.

Perjalanan Pertiwi kemudian berkembang menjadi upaya untuk memahami kembali kehidupannya usai melewati masa-masa berat. Ia harus berhadapan dengan trauma, dinamika keluarga yang berubah, serta lingkungan yang belum sepenuhnya bisa menerimanya. Dari proses itu, Pertiwi perlahan merajut kembali arti hidup yang ingin ia jalani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *