ABNnews – Di Era perkembangan AI yang semakin canggih, karya pembuatan film juga dapat menggunakan atau mengadopsi dari teknologi canggih tersebut.
Namun, menurut Pencerita AI sekaligus juri ajang film pendek AI CineFest Immanuel Manurung unsur kreativitas buah pikiran manusia tetap menjadi suatu hal yang penting dalam pembuatan film.
Karena, kretivitas dan buah pikiran manusia dalam pembuatan film mampu menghadirkan emosi dan alur cerita yang kuat dalam sebuah film.
“Teknis bukan masalah lagi. Sekarang kakek-nenek kita di rumah juga bisa bikin konten AI dengan teknologi. Tapi yang bisa kasih emosi ke dalam setiap frame, yang bisa atur pace-nya, bahkan sampai editing-nya, itu yang membedakan,” kata Immanuel dalam sesi diskusi AI Cinefest di Jakarta, Jumat (7/8/2026), dilansir dari Antara.
Menurutnya, proses kreatif tidak berhenti pada saat AI menghasilkan gambar atau video. Pembuat film tetap harus melalui tahapan memilih bagian terbaik dari hasil konten buatan AI, menyusun ritme cerita, menyesuaikan musik latar, efek suara, hingga menentukan dialog agar sesuai dengan emosi yang ingin disampaikan.
Ia menilai, kemampuan menghubungkan seluruh elemen tersebut menjadi satu kesatuan cerita merupakan nilai tambah yang tidak dapat digantikan oleh AI.
“Proses kurasi seluruh output itu yang kemudian menjadi satu hasil akhir. Ada proses berpikir apakah emosinya sudah masuk, apakah pace ceritanya sesuai dengan backsound atau sound effect, dan menyesuaikan dialognya. Itu yang membuat hasilnya berbeda dari konten AI yang generik,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Founder Marketplace AI Rifqy Yusuf yang menilai keterampilan paling penting bagi kreator konten AI, termasuk pembuat film, adalah kreativitas.
“Skill yang paling pertama dan paling utama itu skill kreatif. Melihat angle, memasukkan emosi, karena itu yang membedakan dari mesin. Ada nyawa di dalam video itu,” kata Rifqy.
Selain kreativitas, ia menilai kemampuan mengurasi juga penting. Menurut dia, kreator perlu berani menyeleksi puluhan hasil gambar atau video yang dibuat AI untuk mendapatkan kualitas terbaik.
“Proses kurasinya itu yang berbeda antara satu kreator dan kreator lain. Banyak yang sudah menghasilkan banyak video, tapi takut memilih atau membuang hasil yang kurang bagus karena merasa sudah mengeluarkan biaya,” ujarnya.
Rifqy menambahkan kreator juga perlu memahami karakteristik setiap model AI agar dapat memilih alat yang paling sesuai dengan kebutuhan produksi sekaligus mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan.
“Setiap model punya keunggulannya masing-masing. Kreator harus tahu kapan menggunakan model tertentu dan bagaimana menyeimbangkan biaya dengan hasil yang ingin dicapai,” katanya.












