ABNnews – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) untuk aktif menampung mahasiswa Gen Z dalam program magang nasional.
Menariknya, para peserta magang ini nantinya akan mendapatkan gaji langsung dari pemerintah selama 6 bulan.
Pernyataan tersebut disampaikan Menko Airlangga saat membuka Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO ke-XXXV di Makassar. Langkah ini menjadi bagian dari stimulus pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus mendorong daya beli masyarakat di tengah gejolak ekonomi global.
“Pemerintah mendorong program magang untuk Gen Z yang tadi disampaikan. Itu magang 150.000 peserta. Dan saya minta beberapa perusahaan APINDO untuk ikut mendaftar. Jadi saya minta teman-teman dari APINDO bisa menerima magang. Karena magang ini mahasiswa Gen Z dan diberi gaji oleh Pemerintah selama 6 bulan,” tutur Menko Airlangga.
Inisiatif penguatan SDM tersebut melengkapi kinerja ekonomi Indonesia yang terbukti tetap solid dan resilien. Di saat proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia membaik dari 2,8% pada 2026 menjadi 3,1% pada 2027, indikator makroekonomi dalam negeri pun mencatatkan hasil positif:
* Inflasi Terjaga: Berada di angka 2,88% (yoy) pada Juli 2026, sesuai sasaran 2,5±1%.
* Aktivitas Manufaktur: Tetap berada di level ekspansif 50,2 per Juli 2026.
* Kredit Perbankan: Tumbuh hingga 12,67% (yoy) pada Juni 2026.
* Cadangan Devisa: Mencapai USD 145,6 miliar atau setara 5,5 bulan impor per Juni 2026.
Selain magang untuk 150.000 peserta dan vokasi 220.000 peserta, stimulus konsumsi domestik juga dipacu lewat diskon transportasi, bantuan pangan, THR ASN, hingga BHR ojol. Akselerasi ini kian kuat dengan hadirnya program swasembada energi (B50, Biosolar Nelayan, Bioetanol), penyaluran kredit program Rp169,9 triliun, serta pulihnya pariwisata yang menggaet 7,4 juta wisman hingga Juni 2026.
Di sektor investasi, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings kembali memberikan afirmasi peringkat layak investasi bagi Indonesia dengan outlook stabil. Pemerintah juga sukses menerbitkan Panda Bonds berdenominasi yuan yang menyabet peringkat AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating demi memperluas akses pasar keuangan internasional.
Di sisi lain, keandalan pangan dijaga lewat percepatan penyaluran beras SPHP. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pun telah menembus investasi kumulatif Rp368 triliun dan menyerap 283.234 tenaga kerja per Semester I-2026.
Menko Airlangga menegaskan bahwa untuk mengakselerasi pertumbuhan nasional, Pemerintah memacu tiga mesin ekonomi utama:
1. Mesin Ekonomi Konvensional (Industri Padat Karya): Pemerintah menyediakan bantuan kredit investasi dan modal kerja agar industri domestik—seperti sektor tekstil—dapat melakukan peremajaan mesin dan meningkatkan efisiensi.
2. Ekonomi Digital dan Teknologi Tinggi: Meliputi pengembangan industri semikonduktor, akselerasi digitalisasi lewat ASEAN DEFA, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Indonesia kini resmi menjadi pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara lain untuk menarik investasi pusat data (data center).
3. Ekonomi Berbasis Talenta (Gig Economy): Fokus meningkatkan produktivitas SDM adaptif melalui perluasan program magang nasional.
“Kita akan berjaya bukan hanya kalau pengusahanya bersatu, tetapi kalau pengusaha dan Pemerintah bersama-sama, juga dengan BUMN, itu yang namanya Indonesia Incorporated,” tegas Airlangga.
Menutup keterangannya, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga sinergi rapat dengan dunia usaha demi menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Kolaborasi yang erat antara Pemerintah dan dunia usaha menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing nasional, memperluas kesempatan kerja, dan mewujudkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, serta berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global,” pungkas Haryo.












