ABNnews – Gelar pahlawan nasional tidak melulu milik mereka yang mengangkat senjata di medan perang.
Kementerian Sosial (Kemensos) kini berkomitmen penuh untuk mengawal proses pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Sutan Takdir Alisjahbana (STA), seorang tokoh pemikir kebudayaan dan sastrawan besar yang berjuang lewat jalur bahasa dan pendidikan.
Usulan yang diinisiasi oleh Universitas Nasional (UNAS) tersebut saat ini sedang masuk dalam tahap pemrosesan administratif di kementerian untuk kemudian diteruskan ke instansi terkait agar dikaji lebih mendalam oleh tim ahli.
“Ini kan lagi diproses, banyak tokoh yang hadir. Ya nanti akan diteruskan prosesnya. Kami akan mengawal sampai nanti ke Dewan Gelar Kementerian Kebudayaan yang dipimpin oleh Pak Fadli Zon,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf usai seminar nasional Usulan Gelar Pahlawan STA di Aula Kampus Universitas Nasional, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (1/7/2026).
Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengaku belum bisa memaparkan data kalkulasi secara terperinci karena Kemensos belum menggelar rapat pleno khusus terkait total usulan gelar kepahlawanan tahun ini. Namun, ia memastikan nama STA sudah mengunci tempat di daftar prioritas utama.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan kepada figur-figur inspiratif yang berjuang di belakang panggung publik.
“Esensi kepahlawanan STA sangat besar karena meski tidak ikut bertempur secara fisik di medan perang, almarhum berjasa besar dalam merintis dunia pendidikan serta mendorong standardisasi Bahasa Indonesia modern,” tegas Gus Ipul.
Bagi Gus Ipul, sosok Sutan Takdir Alisjahbana bukan sekadar nama besar di buku sejarah Sastra Indonesia. Sebagai alumnus UNAS angkatan 1985, ia memiliki memori dan kesan mendalam terhadap kepemimpinan STA semasa hidupnya.
Saat menjabat sebagai rektor UNAS, STA dikenal sebagai sosok yang selalu menanamkan iklim kebebasan berpendapat dan berekspresi secara demokratis kepada para mahasiswanya.
Berkat prinsip kuat tersebut, kampus UNAS pada masa itu berhasil tumbuh subur menjadi salah satu pusat diskusi andalan bagi pergerakan para aktivis mahasiswa lintas perguruan tinggi.
“Saya berharap mudah-mudahan melalui proses yang ada, Sutan Takdir Alisjahbana bisa menjadi salah satu pahlawan nasional yang ditetapkan oleh Bapak Presiden Prabowo,” pungkasnya.












