banner 728x250
Dunia  

Tentara Prancis Tewas di Lebanon, Presiden Macron Murka!

Emmanuel Macron (Foto: REUTERS/Stephane Mahe/ File Photo Purchase Licensing Rights)

ABNnews – Situasi di Lebanon Selatan mendadak mencekam. Seorang tentara asal Prancis yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) tewas mengenaskan setelah menjadi sasaran serangan saat menjalankan tugas “membersihkan jalan”.

Tragedi ini tak hanya menelan satu korban jiwa, tetapi juga melukai tiga anggota UNIFIL lainnya, di mana dua di antaranya berada dalam kondisi serius.

Insiden yang terjadi di desa Ghandouriyeh ini memicu kemarahan besar dari pemerintah Prancis.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bereaksi keras. Melalui kantor kepresidenan, Macron mengutuk serangan tersebut dengan bahasa tegas.

“Mengutuk serangan yang tidak dapat diterima,” tulis pernyataan resmi tersebut, dilansir Reuters, Minggu (19/4/2026).

Menanggapi situasi darurat ini, Macron diketahui telah melakukan komunikasi via telepon dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam.

Macron mendesak otoritas Lebanon untuk segera bertindak dan menyeret pihak bertanggung jawab ke jalur hukum.

Berdasarkan pengkajian awal pihak UNIFIL, serangan ini disimpulkan sebagai “serangan yang disengaja”. Tembakan senjata ringan yang menewaskan tentara tersebut diduga berasal dari aktor non-negara.

Macron secara spesifik menyebut bahwa bukti sejauh ini mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran. Namun, tuduhan ini langsung dibantah oleh Hizbullah. Mereka menyatakan

“keterkejutannya atas posisi yang terburu-buru membuat tuduhan tanpa dasar” terhadap kelompok tersebut.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, menjelaskan bahwa saat kejadian, patroli tersebut tengah menjalankan misi krusial. Mereka bertugas membuka akses jalan menuju pos UNIFIL yang sempat terisolasi akibat pertempuran di daerah tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut angkat bicara. Ia mengutuk keras insiden ini dan mendesak semua pihak yang bertikai untuk “menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata.”

Pemerintah Lebanon, melalui militer dan jajaran petingginya, telah menyatakan dukacita mendalam serta memastikan bahwa penyelidikan segera telah dibuka untuk mengusut tuntas siapa pelaku di balik penembakan ini.

Sebagai informasi, UNIFIL pertama kali dikerahkan di Lebanon pada tahun 1978 dan terus beroperasi melewati berbagai konflik bersenjata, termasuk perang tahun 2024 yang membuat posisi mereka kerap menjadi sasaran tembakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *