ABNnews – AKBP Rosana Albertina Labobar, S.I.K., M.Si. resmi mengukir sejarah sebagai Polwan pertama yang memimpin Polres Gunungkidul usai menjalani upacara pisah-sambut di Mapolres Gunungkidul, Sabtu (10/10/2026).
Mengawali masa kepemimpinannya, perwira menengah Polri ini mengusung konsep unik bertajuk “Polres Gunungkidul Ngopeni” demi memperkuat pelayanan masyarakat.
Upacara pisah-sambut tersebut digelar khidmat mengikuti rangkaian tradisi resmi Polri, mulai dari prosesi gerbang Pedang Pora, pengalungan kalung bunga, hingga penandatanganan berita acara serah terima jabatan dari AKBP Damus Asa, S.H., S.I.K., M.H. kepada AKBP Rosana Albertina Labobar.
Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih beserta jajaran Forkopimda, para pejabat utama Polres, Kapolsek se-wilayah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh personel Polres Gunungkidul dan perwakilan Bhayangkari Cabang Gunungkidul.
Dalam sambutan perdananya, AKBP Rosana mengucapkan terima kasih atas penyambutan hangat sekaligus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pejabat sebelumnya dan seluruh jajaran atas kerja keras menjaga kondusivitas wilayah.
“Saya datang bukan untuk membawa perubahan secara mendadak, melainkan melanjutkan semua hal baik yang sudah dibangun sebelumnya,” ujar Rosana.
Perwira menengah asal Tanimbar, Maluku ini menyadari pentingnya memahami kebiasaan lokal. Sebagai pendatang baru, ia bahkan mengaku sudah mulai mempelajari bahasa Jawa melalui percakapan santai dengan para lurah dan dukuh di sejumlah desa.

AKBP Rosana menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak bisa diwujudkan oleh kepolisian semata. Sinergi antara Polres, pemerintah daerah, TNI, tokoh masyarakat, dan warga merupakan fondasi utama agar Gunungkidul tetap aman dan kondusif.
Ia juga berkomitmen memperkuat pembinaan masyarakat, patroli rutin di area rawan konflik maupun bencana, hingga merespons keluhan warga di tingkat desa.
Secara khusus, ia membeberkan makna di balik konsep “Polres Gunungkidul Ngopeni” yang dirumuskannya sebagai bentuk implementasi program Kapolri dan Kapolda DIY terkait Polisi Bersama Masyarakat:
* Ngopeni: Bukan sekadar menjaga, melainkan merawat, memperhatikan, memahami, melindungi, dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati agar sesuatu yang dirawat dapat tumbuh menjadi lebih baik.
* Ngerti: Polisi yang memahami keadaan, mendengarkan aspirasi, mengenali persoalan, serta menghormati nilai dan budaya lokal.
* Ngayomi: Polisi yang melindungi dan memberikan keteduhan untuk menghadirkan rasa aman, kepastian, serta keadilan.
* Ngabdi: Polisi yang bekerja dengan ketulusan, menempatkan tugas sebagai amanah, dan pelayanan sebagai sebuah kehormatan.
“Ukuran keberhasilan Polri bukan hanya pada berapa banyak perkara yang diselesaikan, tetapi juga berapa banyak persoalan yang dapat dicegah, berapa banyak masyarakat yang merasa terbantu, dan seberapa besar kepercayaan publik yang dapat kita bangun,” tegas Rosana.
Kepada seluruh personel, ia berpesan agar tetap disiplin, berintegritas, serta rendah hati saat bertugas, termasuk memberikan perhatian pada wilayah perbukitan yang menjadi ciri khas Gunungkidul.
“Jangan hanya menjadi petugas yang menegakkan aturan, tetapi juga menjadi pendengar yang baik bagi warga. Tunjukkan bahwa kita hadir untuk melayani, bukan hanya untuk mengawasi,” ucapnya.
Di akhir sambutannya, AKBP Rosana memohon dukungan dan masukan dari seluruh pihak. Ia menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan Bupati, Forkopimda, seluruh jajaran Polres, dan masyarakat Gunungkidul demi memberikan pengabdian terbaik.












