Tragedi Tradisi ‘Brandu’ di Gunungkidul: Potong Ternak Mati, 4 Warga Positif Antraks

Ilustrasi. Petugas Mengubur Sapi Mati Milik Warga Dusun Grogol IV, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul (Istimewa Dokumentasi Warga)

ABNnews – Kebiasaan memotong dan mengonsumsi daging ternak yang telah mati kembali membawa petaka. Empat warga Dusun Pelem, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dipastikan positif terinfeksi bakteri antraks usai menyantap daging dari seekor kambing yang sakit dan mati mendadak demi menjalankan tradisi ‘brandu’.

Tradisi brandu atau yang dikenal juga dengan sebutan porak merupakan kebiasaan masyarakat lokal yang mengumpulkan iuran untuk membeli ternak mati. Aksi tersebut dilakukan dengan niat awal untuk membantu meringankan beban finansial pemilik ternak yang berduka.

“Infonya memang itu lah brandu (mengonsumsi daging dari ternak mati). Kemudian dikonsumsi bareng-bareng gitu. Kemudian ya karena ada suspek, kemudian diperiksa ke Labkesmas dan memang itu hasil PCR-nya positif,” terang Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, saat dikonfirmasi, Jumat (2/10/2026).

Ismono menerangkan bahwa awal mula temuan kasus ini terjadi pada September 2026. Kala itu, sejumlah warga mengeluhkan timbulnya luka-luka berupa koreng pada kulit yang menjadi indikasi awal gejala antraks. Dari penelusuran medis, sebanyak tujuh orang ditetapkan sebagai suspek.

“Luka-luka kayak koreng di kulit itu. Dan kita ambil swab-nya,” ujar Ismono.

Pemeriksaan spesimen swab yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) kemudian mengonfirmasi empat di antara tujuh suspek tersebut positif antraks.

Meski sempat mengalami gejala infeksi pada kulit, Ismono memastikan bahwa kondisi kesehatan keempat warga terkonfirmasi positif tersebut saat ini telah berangsur pulih dan dinyatakan sehat.

“Sudah sehat,” tegasnya.

Guna mencegah penyebaran wabah lebih luas, Dinkes Gunungkidul bergerak cepat melakukan pelacakan (tracing). Hasil penelusuran mengidentifikasi sebanyak 47 orang yang masuk dalam populasi berisiko tinggi karena memiliki riwayat kontak atau paparan langsung dengan hewan maupun produk daging kambing tersebut.

Seluruh warga yang berstatus suspek dan berisiko langsung diberikan obat pencegahan (profilaksis). Petugas kesehatan juga memberlakukan pemantauan intensif selama 60 hari atau dua kali masa inkubasi antraks.

“Saat ini sudah nggak ada kasus baru itu, berarti sudah selesai di situ,” tutur Ismono.

Menanggapi kejadian ini, Dinas Kesehatan bersama instansi peternakan setempat terus menggencarkan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat agar tidak lagi melanggengkan tradisi brandu.

“Jadi sebetulnya sudah kita dari teman-teman di peternakan kalau ada hewan seperti itu jangan disembelih, kan gitu,” pungkas Ismono mengimbau agar warga tidak nekat mengolah ternak yang sakit maupun mati tidak wajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *