ABNnews – Terobosan menarik dihadirkan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) lewat inovasi Biomassa dari Desa alias Biodes.
Program ini sukses menyulap lahan kering dan marjinal menjadi kawasan produktif penghasil energi bersih, sekaligus membuka kran tambahan cuan bagi para petani lokal hingga Rp 100 ribu per hari.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menjelaskan bahwa inovasi Biodes dirancang dengan memadukan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, pemberdayaan masyarakat, hingga integrasi rantai pasok. Langkah ini menjadi strategi utama perusahaan dalam menjaga keberlanjutan pasokan biomassa untuk program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
“Inovasi Biodes merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Mamit dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).
Lewat Biodes, pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan dioptimalkan bersama penanaman tanaman energi di lahan marjinal. Pendekatan ini memosisikan desa bukan sekadar penyedia bahan baku, melainkan bagian inti dari rantai produksi yang melibatkan petani, BUMDes, penyedia, hingga pembangkit listrik.
Konsep unggulan Biodes ini juga telah dipaparkan oleh tim PLN EPI yang beranggotakan Khalda Az Zahra, Pandu Trijaka, dan Nurlita Dewi Utami pada sesi Knowledge Hub Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026.
Pengembangan Biodes mengacu pada data Kementerian ESDM tahun 2022 yang mengindikasikan keterbatasan volume biomassa berbasis limbah siap pakai. Potensinya diperkirakan mencapai batas jenuh di kisaran 2,4 juta ton, sementara target cofiring RUPTL 2025–2034 masih membutuhkan tambahan pasokan hingga 7,6 juta ton.
Guna menutup kesenjangan pasokan tersebut, PLN EPI mengusung enam pendekatan utama:
1. Optimalisasi potensi biomassa desa.
2. Penanaman tanaman energi dengan sistem tumpang sari.
3. Pengembangan rantai pasok berbasis spoke-hub.
4. Peningkatan kualitas dan kuantitas biomassa.
5. Digitalisasi rantai pasok berbasis marketplace.
6. Integrasi ekosistem desa dengan sektor industri.
Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Khalda Az Zahra, menegaskan bahwa penanaman tanaman energi juga diselaraskan dengan komoditas pangan masyarakat.
“Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, Biodes juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” tutur Khalda.
Uji coba awal Biodes telah diimplementasikan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sejak 2023 dengan menggarap lahan seluas 106 hektare.
Rangkaian program berjalan bertahap mulai dari survei, sosialisasi, penerapan sistem pertanian terpadu, pengumpulan di subhub, pengolahan di BUMDes, hingga pengiriman bahan baku ke PLTU Adipala Cilacap.
Integrasi sistem subhub dan hub berbasis digital terbukti meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memastikan mutu dan kontinuitas pasokan biomassa terjaga.
Program Biodes diproyeksikan sanggup menghasilkan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun, melibatkan 330 petani, memanfaatkan 106 hektare lahan marjinal, serta membuka 25 lapangan kerja baru. Dari sisi lingkungan, inovasi ini berkontribusi menekan emisi gas rumah kaca sebesar 6.750 ton CO2e.
Ke depan, peta jalan (roadmap) Biodes akan diperluas ke berbagai desa di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, sebelum dilanjutkan ke luar Pulau Jawa. Secara bertahap, PLN EPI membidik sasaran hingga 100 desa untuk memperkuat ekosistem energi bersih sekaligus mengembangkan peluang bisnis beyond kWh.












