ABNnews – Perekonomian Indonesia dipastikan siap tancap gas memasuki Triwulan IV 2026 berkat lonjakan signifikan pada neraca perdagangan serta kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi. Ketangguhan ekonomi nasional di tengah gejolak ketidakpastian global ini dibuktikan oleh tiga indikator makroekonomi utama yang dirilis pada Kamis (1/10/2026).
Selain surplus perdagangan dan manufaktur yang terus menguat, tingkat inflasi September 2026 juga tercatat aman dan terkendali di dalam sasaran target pemerintah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa capaian positif dari indikator-indikator tersebut merupakan sinyal kuat bahwa fondasi perekonomian Indonesia sangat kokoh.
“Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia,” tegas Menko Airlangga.
Surplus Perdagangan Melonjak Tajam Berkat B50 dan Hilirisasi
Kinerja sektor eksternal Indonesia mencatatkan rekor impresif. Sepanjang Januari–Agustus 2026, neraca perdagangan mencatat surplus kumulatif hingga USD 7,25 miliar. Angka ini ditopang oleh surplus nonmigas sebesar USD 28,54 miliar.
Memasuki Agustus 2026, surplus neraca perdagangan melompat tajam menjadi USD 3,55 miliar dari yang sebelumnya hanya USD 0,12 miliar pada Juli 2026. Lonjakan ini ditopang oleh menguatnya surplus nonmigas yang mencapai USD 6,09 miliar serta terus menurunnya defisit migas menjadi USD 2,54 miliar.
Penurunan defisit migas secara konsisten sejak Juni mengindikasikan keberhasilan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional, salah satunya melalui keberlanjutan implementasi kebijakan B50 sejak 1 Juli 2026.
Di sisi lain, ekspor nonmigas melaju kencang berkat kontribusi komoditas utama. Sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor besi dan baja naik 4,88% (USD 19,18 miliar), CPO dan turunannya naik 6,57% (USD 17,75 miliar), serta batu bara naik 4,31% (USD 16,58 miliar). Pertumbuhan ekspor industri pengolahan yang mencapai 6,62% menjadi bukti nyata semakin solidnya dampak hilirisasi.
Struktur impor nasional juga didominasi oleh barang produktif. Sebanyak 91,3% dari total impor merupakan bahan baku/penolong (USD 133,38 miliar) dan barang modal (USD 36,74 miliar), sedangkan barang konsumsi hanya porsi kecil sebesar 8,7%. Tingginya impor mesin/peralatan mekanis (naik 15,26%) serta mesin/perlengkapan elektrik (naik 22,94%) mencerminkan pesatnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.
Sektor Manufaktur Kembali Bergairah
Sejalan dengan derasnya impor bahan baku, PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global untuk September 2026 melejit ke angka 52,4. Angka ini naik drastis dari posisi 49,8 pada Agustus 2026, menempatkan kembali sektor manufaktur di zona ekspansi dengan perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.
Peningkatan pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026, sementara permintaan ekspor mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak Mei 2022. Kondisi ini langsung memicu peningkatan penyerapan tenaga kerja, aktivitas pembelian input, hingga pertumbuhan persediaan. Di saat yang sama, tekanan biaya input dan output melambat ke titik terendah dalam enam bulan.
Inflasi Terjaga 3,28%, Bantuan Pangan Siap Diguyur
Dari sisi stabilitas harga, realisasi inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% (yoy), berada aman di rentang sasaran nasional 2,5±1%. Inflasi inti melandai ke angka 2,84% (yoy) dan inflasi Administered Prices (AP) mereda di 3,25% (yoy) seiring normalisasi tarif angkutan udara usai libur sekolah.
Sementara itu, inflasi Volatile Food (VF) tercatat 5,03% (yoy) akibat dinamika cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam yang menekan produksi hortikultura. Menanggapi hal ini, pemerintah bersama Bank Indonesia melalui TPIP dan TPID terus meningkatkan koordinasi guna memastikan keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi pasokan.
Guna memperkuat daya beli masyarakat di Triwulan IV 2026, pemerintah menyiapkan serangkaian bauran kebijakan mencakup penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan (Oktober–Desember 2026), serta percepatan penyaluran beras SPHP oleh Perum Bulog.
Pemerintah juga menekan efisiensi logistik dan memitigasi imported inflation melalui pemberian bea masuk 0% untuk LPG industri dan suku cadang pesawat, serta menyiapkan kebijakan serupa untuk bahan baku plastik. Penguatan ketahanan pangan juga diperkuat lewat optimalisasi jaringan irigasi, percepatan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, hingga penguatan Early Warning System.
Sinergi dan bauran kebijakan yang antisipatif ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar terus melaju positif dan siap menghadapi sisa tahun 2026 dengan optimisme tinggi.












