ABNnews – Rasa duka mendalam menyelimuti insan pers Tanah Air atas hilangnya lima jurnalis saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menegaskan bahwa kelima jurnalis yang hingga kini masih dalam proses pencarian tersebut merupakan pahlawan pers yang bertaruh nyawa demi menyajikan karya visual terbaik untuk masyarakat.
“Biasanya kita itu menikmati potret gambar, tapi kadang melupakan bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkannya. Nah, ketika ini terjadi musibah, kita baru tersadar betapa mahalnya, beratnya untuk mencari, mendapatkan gambar terbaik,” ujar Komarudin usai menggelar doa bersama untuk para jurnalis yang hilang di Jakarta, dikutip antara Selasa (22/9/2026).
Komarudin menyebut peristiwa ini menjadi pengingat berharga bagi seluruh jajaran redaksi media. Ia mengimbau agar setiap perusahaan media yang hendak menerjunkan jurnalisnya ke lokasi berisiko tinggi wajib berkoordinasi secara ketat dengan petugas dan otoritas setempat.
Selain itu, Komarudin juga mewanti-wanti pihak pimpinan perusahaan pers agar memberikan perlindungan serta perhatian khusus kepada keluarga awak media yang tertimpa musibah.
“Dan kedua, juga pihak pimpinan hendaknya melepas memperhatikan betul. Sebab kalau ada musibah seperti ini tentunya kawan-kawan perusahaan, pimpinannya, hendaknya memberikan perhatian spesial pada keluarga yang ditinggal,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dewan Pers menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak terkait dan tim SAR yang terus bergerak mencari keberadaan para korban.
“Dewan Pers memberikan perhatian, belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami mengadakan acara doa bersama, sambutan, refleksi dari kawan-kawan. Tentu doa kami semoga mereka kembali,” imbuh Komarudin.
Duka senada disampaikan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo. Pihaknya merasa sangat kehilangan atas musibah yang menimpa lima jurnalis serta tiga awak kapal yang mendampingi peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Guna memaksimalkan upaya penyisiran di lapangan, PFI memilih untuk bergerak bersama masyarakat dalam melakukan aksi pencarian secara mandiri.
“Jadi saat ini pewarta foto Indonesia masih kuat, masih bersatu dengan masyarakat melakukan pencarian mandiri,” terang Dwi.
Dwi menegaskan bahwa dedikasi para pewarta yang hilang dalam menjalankan amanat Undang-Undang Pers merupakan bentuk perjuangan nyata bagi bangsa. Karya-karya fotografi jurnalistik mereka senantiasa menjadi ujung tombak yang mengungkap fakta dan peristiwa terkini.
“Harapannya teman-teman bisa kembali bersama keluarga dan karya-karya teman-teman bisa abadi,” pangkas Dwi.












