Intip Potensi Raksasa Produk Fermentasi & Olahan Kopi RI di Ajang Specialty Indonesia 2026

Foto dok Kemenperin

Intip Potensi Raksasa Produk Fermentasi & Olahan Kopi RI di Ajang Specialty Indonesia 2026

ABNnews – Gelaran Specialty Indonesia 2026 resmi dibuka untuk memamerkan potensi raksasa industri nasional berbasis sumber daya lokal. Di antara komoditas unggulan yang dipamerkan, produk pangan fermentasi dan kopi olahan menjadi sorotan utama karena memiliki peluang pasar global yang sangat menggiurkan.

Dalam ajang ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkenalkan Indonesian Fermentation Forum Experience guna mengangkat potensi fermentasi berbasis kearifan lokal menjadi bagian dari industri modern.

Berdasarkan data Fortune Business Insights, potensi pasar pangan fermentasi global pada 2025 mencapai USD 788,33 juta dan diproyeksikan melonjak hingga USD 1,24 miliar pada 2034.

Sementara pada industri pengolahan kopi, Indonesia yang kini berstatus produsen kopi terbesar ke-4 di dunia berhasil mencatatkan nilai ekspor kopi olahan sebesar USD 692 juta pada 2025, atau tumbuh 4,36 persen secara tahunan.

“Specialty Indonesia menjadi momentum untuk memperkenalkan kualitas dan keunikan produk Indonesia, sekaligus membuka koneksi antara pelaku industri dengan pasar dan mitra bisnis potensial dari dalam maupun luar negeri,” ujar Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat membuka acara di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Faisol menegaskan, kekayaan komoditas Indonesia seperti kopi, teh, kakao, hortikultura, olahan susu, hingga cerutu tidak boleh terus-menerus diekspor sebagai bahan baku mentah (raw material), melainkan harus diolah di dalam negeri agar bernilai tambah tinggi.

Selain fermentasi dan kopi, Kemenperin memaparkan peta kekuatan komoditas lokal lainnya di pasar internasional:

* Kakao: Indonesia menempati posisi ke-4 produsen olahan kakao dan ke-7 produsen biji kakao terbesar di dunia, modal penting untuk penguatan hilirisasi.

* Teh: Pasar suplemen teh hijau dunia diproyeksikan menembus USD 1,33 miliar pada 2033, membukakan jalan diversifikasi produk teh nasional.

* Hortikultura: Ekspor produk hortikultura menembus USD 544,8 juta pada 2025, dengan nanas kaleng menyumbang hampir separuh dari total nilai ekspor.

* Olahan Susu & IHT: Produk olahan susu bernilai tambah seperti keju dan gelato lokal kian diminati sektor kuliner, sedangkan Industri Hasil Tembakau (IHT) menempatkan RI sebagai eksportir terbesar ke-6 di dunia.


Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan, Specialty Indonesia 2026 yang berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 ini bukan sekadar ajang promosi, melainkan upaya konkret memperluas jaringan bisnis.

“Kami berharap ajang ini dapat membuka lebih banyak kolaborasi antara pelaku usaha specialty Indonesia dengan pelaku bisnis pengguna seperti hotel, restoran, kafe, dan ritel internasional,” kata Putu.

Pameran tahunan ini diikuti oleh 48 perusahaan terkurasi serta memfasilitasi 30 perusahaan dalam sesi business matching bersama perwakilan kedutaan besar negara sahabat dan pelaku industri ritel global.

Dihelat di tengah suasana peringatan Hari Kemerdekaan RI, ajang ini sekaligus diharapkan mampu menumbuhkan apresiasi dan kebanggaan masyarakat terhadap produk buatan anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *