banner 728x250

Kumpul Bareng Bos DPR hingga Menkeu, Gubernur BI Buka-bukaan Strategi Jaga Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (Foto; ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN/TOM)

ABNnews – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berkumpul bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Usai pertemuan tingkat tinggi tersebut, Perry langsung buka-bukaan mengenai strategi taktis hasil koordinasi erat antara otoritas moneter dan fiskal demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Perry menegaskan bahwa sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat ini sudah terjalin sangat kuat. Kedua lembaga sepakat untuk bergerak seirama demi membentengi mata uang garuda dari gejolak ketidakpastian global.

“Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan, bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat, dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ungkap Perry Warjiyo kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026).

Perry membeberkan, ada dua langkah utama yang disepakati dalam pertemuan tersebut untuk menjaga stabilitas rupiah. Strategi pertama adalah dengan menaikkan daya tarik imbal hasil (yield) investasi di dalam negeri. Langkah ini dinilai ampuh untuk memikat kembali aliran modal asing masuk (capital inflows) ke tanah air.

“Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” terangnya panjang lebar.

Sementara untuk strategi kedua, otoritas moneter dan fiskal sepakat berkoordinasi ketat demi memastikan kecukupan likuiditas di pasar keuangan maupun industri perbankan nasional nasional tidak kering.

Siasat ini akan dieksekusi melalui mekanisme pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di bank sentral, namun dibarengi dengan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan oleh BI kepada pemerintah.

“Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” jelas Perry.

Di akhir penjelasannya, Perry kembali meyakinkan publik bahwa ikatan kerja sama antara BI selaku pemegang otoritas moneter dan Kemenkeu sebagai nakhoda fiskal akan terus dipertebal sesuai dengan dinamika global yang berkembang.

Ia pun meminta para pelaku pasar tidak panik karena fondasi ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih sangat tangguh untuk meredam tekanan eksternal.

“Untuk sama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai makro ekonomi sesuai dengan dinamika yang ada, dengan keyakinan bahwa fundamental ekonomi kita itu bagus,” pungkas Perry optimis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *