banner 728x250

Tembus Pasar Haji hingga Jerman, Begini Cara IKM Rendang Sumbar Dimodernisasi Pakai Teknologi 4.0

Foto: Kemenperin

ABNnews – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus tancap gas memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) agar mampu berbicara banyak di panggung global.

Berkolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Kemenperin meluncurkan program pembinaan terintegrasi untuk memacu ekspor produk lokal berbasis kearifan daerah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, strategi pembinaan ini mengadopsi konsep One Village One Product (OVOP).

Pendekatan tersebut fokus pada pengembangan produk unggulan daerah yang tidak hanya mendongkrak daya saing, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat setempat.

“Pendekatan OVOP diarahkan untuk mengangkat potensi unggulan daerah agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing, diterima pasar nasional maupun global, sekaligus memberikan dampak positif terhadap penguatan ekonomi daerah,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Agus menjelaskan, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) telah konsisten menggulirkan program OVOP sejak tahun 2013. Memasuki tahun 2026, Kemenperin menggandeng LPEI untuk mengawinkan Program OVOP Go Global dengan Program Desa Devisa.

Pilot project kolaborasi kakap ini mendarat di Sentra IKM Rendang Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Wilayah ini dinilai paling siap dari segi kualitas produk, kelembagaan, hingga sumber daya manusia (SDM).

“Pemilihan Sentra IKM Rendang Kota Payakumbuh didasarkan pada kesiapan SDM, kualitas produk, kelembagaan sentra, serta potensi pengembangan pasar ekspor yang sangat menjanjikan,” tutur Menperin.

Guna memperkokoh posisinya, sentra ini juga disuntik Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk revitalisasi fasilitas produksi. Targetnya jelas: menguasai pasar domestik, menembus pasar haji dan umrah, hingga menjangkau pasar ekspor luar negeri. Langkah awal pendampingan ini telah disosialisasikan langsung kepada para pelaku IKM setempat pada 12 Mei 2026 lalu.

Sekretaris Ditjen IKMA, Yedi Sabaryadi, mengungkapkan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 3174 Tahun 2024, saat ini ada 113 IKM OVOP yang tersebar di sektor makanan dan minuman, kain tenun, batik, anyaman, hingga gerabah.

Menariknya, Provinsi Sumatera Barat nangkring di posisi kedua sebagai wilayah dengan jumlah IKM OVOP terbanyak di Indonesia lewat sumbangan 22 IKM, tepat di bawah DI Yogyakarta.

Dalam program ini, LPEI akan langsung mengurasi sampel produk IKM pilihan untuk dipromosikan ke buyer potensial serta aggregator internasional. Sementara itu, Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menambahkan, pihaknya juga menyuntikkan implementasi teknologi industri 4.0 ke dapur produksi IKM.

“Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi, konsistensi mutu, higienitas produk, kapasitas produksi, serta kesiapan IKM rendang dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun standar pasar ekspor global,” kata Reni.

Dampak nyata program OVOP ini diakui langsung oleh para pelaku usaha di lapangan. Haris Budiman, pemilik IKM Rendang Riry yang bergabung sejak 2013, mengaku usahanya kini sukses mencatatkan kapasitas produksi hingga 200 kilogram per hari dengan sokongan 12 tenaga kerja.

Setali tiga uang, Dedy Syandera Putera selaku pemilik IKM Rendang Gadih (OVOP bintang tiga) bersaksi bahwa fasilitasi desain, kemasan, dan perluasan jejaring dari Kemenperin telah mendongkrak kelas produknya.

Bukan sekadar rencana, produk Rendang Gadih miliknya kini tercatar sudah sukses melenggang ke pasar internasional. “Produk Rendang Gadih kini telah menembus pasar ekspor ke Australia, Taiwan, dan Jerman,” pungkas Dedy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *