ABNnews – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menorehkan sejarah baru dalam industri penerbangan tanah air. Pesawat komersial karya anak bangsa, N219, akhirnya resmi mencatatkan kontrak penjualan perdana untuk pasar komersial dalam negeri.
Tak tanggung-tanggung, pihak swasta yaitu PT Mitra Aviasi Perkasa (PT MAP) langsung memborong 4 (empat) unit pesawat sekaligus. Prosesi penandatanganan kontrak jual beli ini digelar langsung di Hanggar Aircraft Services (ACS), PTDI Bandung, Jawa Barat.
Kontrak jual beli ini ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI Moh. Arif Faisal dan CEO PT MAP Septo Adjie Sudiro. Dalam kesepakatan ini, PT MAP akan bertindak langsung sebagai pembeli (buyer) sekaligus operator dari keempat burung besi tersebut.
Ruang lingkup kontrak perdana ini mencakup pengadaan 4 unit pesawat N219 dalam konfigurasi kargo beserta kelengkapannya. Tak hanya unit pesawat, PTDI juga akan memberikan fasilitas pelatihan hingga publikasi teknis yang penyerahannya dilakukan secara bertahap setelah kontrak dinyatakan efektif.
Momen bersejarah ini disaksikan langsung oleh Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Direktur DKPPU Kemenhub Sokhib Al Rokhman, Dirut PTDI Gita Amperiawan, dan Wakil Komisaris Utama PTDI Bonar H. Hutagaol. Kehadiran para pejabat kementerian ini menegaskan dukungan penuh pemerintah untuk menjadikan N219 sebagai moda transportasi utama di wilayah perintis.
Wakil Menteri Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, mengaku sangat bangga dengan pencapaian ini. Menurutnya, langkah ini menjadi bukti nyata RI mulai lepas dari ketergantungan produk luar negeri.
“Ini bukan tanda tangan kontrak biasa, tapi kita sedang mengambil sikap bahwa kita tidak akan terus bergantung pada solusi yang tidak dirancang oleh kita sendiri. Pesawat N219 adalah simbol pernyataan kedaulatan teknologi yang dibangun oleh anak bangsa untuk menjawab kebutuhan dalam negeri dengan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang cukup kuat, mencapai 44,69%,” tegas Febrian.
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, membeberkan alasan mengapa N219 sangat cocok untuk karakteristik wilayah Indonesia. Pesawat ini memang didesain tangguh untuk mencakar langit di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3TP).
“Pesawat ini memang dirancang untuk penerbangan perintis, dengan kemampuan beroperasi di landasan pendek (short runway) kurang dari 1 km serta landasan tidak beraspal (unpaved runway),” jelas Gita.
Hebatnya lagi, N219 dilengkapi dengan stall speed yang sangat rendah. Fitur ini membuat pesawat sangat lincah bermanuver di medan perbukitan yang sulit. Dari sisi kantong operator, biaya operasinya diklaim sangat kompetitif dan perawatannya pun tergolong mudah karena didukung layanan purna jual langsung oleh PTDI.
Dengan kemampuan mendarat di medan menantang, kehadiran N219 diharapkan mampu menjadi pemantik roda ekonomi di daerah pelosok. Distribusi logistik yang selama ini terhambat urusan geografis dipastikan akan jauh lebih lancar dan efisien, sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat.













