ABNnews – Saya diundang PT SMI untuk diskusi publik tentang bagaimana memaksimalkan pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan ekonomi. Ada Menkeu Yudhi Purbaya di hotel Ayana Midplaza, tempat seminar itu berlangsung. Yudhi temen saya dulu sebagai anggota KEN (komite ekonomi nasional) penasihat ekonomi SBY. PT SMI sangat gampang mengundang Menkeu yang sibuk karena lembaga pendorong infrastruktur ini memang berada di bawah Kemenkeu.
Tapi peranan langsung PT SMI tidak banyak pengaruhnya secara langsung karena aset PT SMI sangat kecil sekitar 120 trilyun sementara kebutuhan pembangunan infrastruktur sampai 6 ribu triyun rupiah. Jadi PT SMI harus memerankan peranan tidak langsung yakni networking dengan pihak swasta agar lebih banyak investasi dan mengucurkan modal untk inferastruktur. Posisinya yang dekat dengan Menteri Keuangan harus dimaksimalkan untuk mendorong swasta dalam negeri investasi dan menanamkan modal di bidang infreastruktur ini. Sementara itu, yang lebih penting lagi adalah membangun jaringan untuk menarik modal dari luar negeri bersama BKPM.
Apa yang haruws dilakukan dalam kebijakan untuk mendorong pembangunan infrastruktur ini? Pertama adalah menganali dahulu bahwa ekosistem kita tidak efisien dan biaya logistik kita sangat boros, paling tidak efisien di ASEAN. Biaya logistik mencapai 14,3 persen dan harus diturunkan menjadi singgle digit satu atau dua dekade yang akan datang. Sebagai negara ekonomi terbesar ke-15 di dunia, peringkat LPI parah, yakni peringkat 61 di dunia. Tidak hanya itu, masalah infrastruktur juga terjadi kesenjangan di pusat dan daerah, di jawa dan luar jawa. Ini harus dibenahi dengan kebijakan “go to country side”.
Sudah paham bahwa modal PT SMI (yang mengundang saya) hanya 2 persen dari kebutuhan nasional untuk investasi infrastruktur. Karena itu, pemerintah harus mendorong swasta menanamkan modal di bidang infrastruktur ini. Saya menganjurkan untuk mendorong swasta lewat kebijakan driver 1, yakni mendorong investasi inferastruktur digital swasta karena efek multilier yang tinggi dan tidak memerlukan modal pemerintah. Digitalisasi kini menjadi new growth multiplier. Setiap peningkatan 10% penetrasi broadband mendorong pertumbuhan PDB sebesar 1,21 ppt di negara maju dan 1,38 ppt di negara berkembang. Artinya, digital bukan hanya enabler, tetapi driver langsung produktivitas ekonomi.
Investasi swasta di bidang infreastruktur digital ini memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Peningkatan Mobile broadband mendorong produktivitas tenaga kerja. Peningkatan kualitas dan kecepatan akses berkorelasi dengan kenaikan produktivitas sekitar 0,2 poin persentase. Ekspansi kapasitas data center mendorong perdagangan jasa digital, dengan potensi peningkatan hingga 1,6 poin persentase. Digitalisasi kini menjadi new growth multiplier. Setiap peningkatan 10% penetrasi broadband mendorong pertumbuhan PDB sebesar 1,21 ppt (point persentase) di negara maju dan 1,38 ppt di negara berkembang. Artinya, digital bukan hanya enabler, tetapi driver langsung produktivitas ekonomi. Jadi, swasta yang investasi di bidang ini harus dibantu kelancaran investasinya, jangan dihambat oleh birokrasiu dan kerumitan aturan.
Saran saya selanjutnya adalah kebijakan infrastruktur prioritas. Ada tiga sektor yang perlu dikemas sebagai kebijakan prioritas, yakni energi terbarukan, transportasi massal, dan pelabuhan dan tol laut. Sektor-sektor ini memiliki backward and forward linkages yang kuat serta dampak signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Ketiga sektor ini menjadi pengungkit utama dalam menutup gap pertumbuhan menuju target nasional. Infratruktur energi dapat mendorong produktivitas industri melalui ketersediaan energi yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan. Transportasi massal mutlak diperlukan karena dapat menurunkan biaya ekonomi akibat kemacetan serta meningkatkan efisiensi mobilitas tenaga kerja di kawasan perkotaan.
Satu prioritas tambahan tetapi sangat penting adalah pelabuhan dan tol laut. Sebagai negara maritim terbesar di dunia dan LPI yang parah, pembangunan pelabuhan dan tol laut akan dapat meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat daya saing ekspor, serta mempercepat integrasi dalam rantai pasok global. Ini yang tidak berhasil diwujudkan selama satu dekade terakhir ini.













