ABNnews – Lonjakan harga plastik yang mencapai 30 persen hingga 80 persen pada kuartal kedua 2026 mulai mencekik para pelaku usaha rumahan dan UMKM.
Menanggapi hal itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung mendorong penggunaan kemasan alternatif agar biaya produksi tidak terus membengkak.
Pramono menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik berada di luar kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Ketentuan harga tersebut menurutnya bergantung pada kebijakan di tingkat pusat atau pergerakan pasar global.
“Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan-ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta,” ujar Pramono di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Mas Pram ini, ketergantungan terhadap plastik perlu dikurangi secara bertahap oleh masyarakat. Ia menilai, tanpa adanya inovasi, lonjakan harga plastik akan terus menjadi beban permanen bagi para pelaku usaha kecil.
“Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya. Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka pendek sekaligus langkah ramah lingkungan, Pramono menyarankan UMKM untuk kembali melirik kemasan tradisional yang lebih terjangkau. Salah satunya adalah penggunaan daun pisang yang dinilai lebih ekonomis dan punya nilai estetika tersendiri.
“Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya,” imbaunya.
Langkah ini diharapkan dapat menekan ongkos produksi yang melonjak akibat harga plastik, sekaligus mendukung gerakan Jakarta ramah lingkungan dengan meminimalisir sampah anorganik.













