banner 728x250
Opini  

Bukan Kiamat! Ternyata Krisis Harga Minyak Bisa Bikin Ekonomi RI Tembus 7 Persen, Kok Bisa?

Ilustrasi. Foto: Orlando Sierra/AFP

ABNnews – Diskusi di media sosial soal dampak perang AS-Israel vs Iran terhadap harga minyak dunia belakangan ini terasa mencekam seperti mau kiamat. Namun, ekonom senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, mengajak kita melihat perspektif out of the box.

Menurutnya, Indonesia punya keunggulan struktural bernama Natural Hedge alias kekayaan sumber daya alam (SDA) yang bisa jadi “penyelamat” sekaligus motor pertumbuhan ekonomi.

“Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang. Kita harus memanfaatkan penguatan sektor Natural Hedge Indonesia,” ungkap Prof. Didik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (11/4/2026).

Krisis minyak memang menekan ekonomi lewat kenaikan biaya energi, beban subsidi fiskal, dan pelemahan rupiah. Namun, ada sektor-sektor yang justru menunjukkan ketahanan (resilience) dan keluar sebagai pemenang. Sektor tersebut meliputi batu bara, nikel, timah, bauksit, hingga perkebunan seperti CPO dan karet.

Sektor-sektor ini punya keunikan: basis inputnya rupiah (lokal), tapi outputnya ekspor yang menghasilkan valuta asing seperti dolar, yen, atau yuan. Artinya, saat rupiah terdepresiasi, daya saing ekspor kita justru makin kuat dan keuntungan dari selisih kurs pun meningkat tajam!

Prof. Didik mengingatkan memori masa lalu. Saat harga minyak dunia naik tinggi, sektor berbasis SDA justru mengalami windfall effect. Di masa kepemimpinan SBY, pemanfaatan harga komoditas global yang ikut naik sanggup mendorong ekonomi tumbuh tinggi di kisaran 6,5 persen.

“Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen. Indonesia tidak akan bisa lewat 5 persen jika hanya mengandalkan sektor domestik dan pengeluaran pemerintah,” tegasnya.

Pemerintah diminta tidak menyerah dengan tekanan harga minyak. Strategi fiskal adaptif harus dijalankan dengan mengoptimalkan penerimaan negara dari windfall profit tersebut. Mengacu pada Pasal 33 UUD 1945, kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Termasuk Badan Pengelola Investasi Danantara yang diharapkan mendapat manfaat dari perusahaan negara di sektor ini. Hasil penerimaan tersebut bisa digunakan untuk mengatasi krisis sekaligus mempercepat hilirisasi.

“Harus percepat hilirisasi nikel, bauksit, kakao, hingga CPO. Transformasi ini adalah mendorong industrialisasi berbasis SDA seperti smelter dan green industry,” tambahnya.

Bahkan, krisis ini dinilai sebagai momentum tepat untuk transisi energi hijau. Hasil windfall profit dapat digunakan untuk mendanai roadmap green economy menuju ekonomi rendah karbon. Jadi, alih-alih jadi beban, krisis harga minyak justru bisa jadi ajang penghematan, efisiensi, dan konsolidasi fiskal yang manis buat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *