ABNnews – Teater kontemporer yang berjudul “Kebun Hantu” menampilkan efek algoritma platform digital terhadap ruang intim, tubuh, dan memori manusia modern.
Adapun teater tersebut digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Senin (12/10).
Aktor Badri Adalah Badri menuturkan bahwa bait-bait puitis penuh jargon siber yang ditampilkan di panggung merupakan refleksi riil dari realitas masyarakat kini yang terjebak candu gawai.
“Dunia digital kan kayak begitu. Semakin kita buka, kita semakin kedikte oleh algoritma yang merasa memahami segalanya,” katanya saat ditemui seusai pementasan di Teater Wahyu Sihombing Senin (12/10/2026), dilansir dari Antara.
Badri mengemukakan bahwa pementasan “Kebun Hantu” lahir dari metode eksperimental.
Menurut dia, sutradara Roy Julian mengemas latar belakang psikologis serta trauma fisik para pemeran, seperti Bambang Wahyudin, Parulian, Marina Novianti, dan Yuli Goplumb, menjadi bagian naskah dan menyajikannya dalam bahasa panggung.
“Roy Julian mengemas latar belakang kami semua menjadi naskah. Dialog atau adegan repetitif seperti patung itu menceritakan orang-orang yang kehilangan tubuh dan identitasnya sendiri,” ujar Badri.
Badri mengatakan bahwa proses untuk menghadirkan refleksi “arsip tubuh” yang gagal menjadi dirinya sendiri dalam pementasan “Kebun Hantu” memakan waktu sekitar 10 bulan.
“Proses reading sampai bentuk (pertunjukan) itu makan waktu 10 bulanan. Latihan 10 bulan hanya untuk pementasan satu jam lebih. Itulah gila-nya teater,” katanya.
Namun, kami berharap penonton pulang dengan membawa sesuatu yang bisa dicerna di kepala mereka,” kata Badri mengenai pertunjukan berdurasi 70 menit itu.
Teater “Kebun Hantu” merupakan buah kolaborasi Kantor Teater dan Trippicandid.
Pertunjukan ini akan digelar kembali pada Selasa (13/10) pukul 20.00 WIB. Anggota masyarakat umum bisa menyaksikan pertunjukan secara gratis setelah melakukan registrasi via daring.












