Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Beroperasi, Menperin Ungkap Cerita Diplomasi Ulet Luhut ke Shenzhen

Foto dok Kemenperin

ABNnews – Peresmian fasilitas produksi PT BYD Motor Indonesia di Subang, Jawa Barat, menjadi babak baru penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Di balik beroperasinya pabrik mobil listrik raksasa tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membongkar kisah gigihnya diplomasi Luhut Binsar Pandjaitan saat melobi kantor pusat BYD di Shenzhen, Tiongkok.

Apresiasi khusus itu disampaikan Menperin Agus Gumiwang saat memberikan sambutan pada peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/9/2026). Ia menyebut masuknya investasi BYD hingga berdirinya pabrik di Subang merupakan hasil dari proses panjang diplomasi dan pengawalan ketat pemerintah.

“Saya menyaksikan langsung proses tersebut dan bagaimana Pak Luhut begitu gigih memperjuangkan agar investasi masuk ke Indonesia, termasuk investasi BYD. Proses yang panjang itu akhirnya dapat kita lihat hasilnya dengan berdirinya fasilitas produksi BYD di Indonesia,” ujar Agus.

Agus menegaskan, keberadaan fasilitas produksi BYD di Subang menjadi momentum strategis untuk membawa industri kendaraan listrik Indonesia bergeser dari sekadar pertumbuhan pasar menuju penguatan basis manufaktur serta pendalaman struktur industri dalam negeri.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada BYD atas kepercayaan dan komitmennya untuk berinvestasi serta mengembangkan kegiatan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Kami sangat yakin BYD akan terus berkembang dan sukses,” tambahnya.

Pengoperasian pabrik BYD berlangsung di tengah kinclongnya performa industri manufaktur tanah air. Data BPS mencatat Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) pada triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,32% (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%.

“Pertumbuhan industri manufaktur sebesar 5,32 persen sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Terakhir kali pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional terjadi sekitar 14 tahun lalu. Ini menjadi sinyal yang sangat positif bagi industri kita,” tegas Agus.

Tak hanya itu, data Bank Dunia mencatat penciptaan nilai tambah manufaktur (Manufacturing Value Added/MVA) Indonesia meroket menjadi USD 275,61 miliar pada 2025.

Capaian ini mendongkrak posisi Indonesia ke peringkat 12 dunia, peringkat 5 Asia, serta mempertahankan posisi teratas di kawasan ASEAN.

Kehadiran pabrik BYD kian relevan mengingat pesatnya pertumbuhan pasar kendaraan listrik domestik. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia telah mencapai 486 ribu unit, yang terdiri dari 242 ribu unit roda dua dan 223 ribu unit roda empat.

Pada semester I-2026, penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) menembus angka 70 ribu unit dengan pangsa pasar 16%, sementara mobil hybrid (HEV) terjual 40.400 unit (pangsa pasar mendekati 10%).

Guna memperkuat rantai pasok dalam negeri, pemerintah mewajibkan peta jalan nilai minimum Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN): minimal 40% hingga 2026, minimal 60% pada 2027–2029, serta minimal 80% mulai 2030.

Agus juga mengungkapkan rencana pengembangan skema insentif baru berbasis capaian TKDN atas arahan Luhut.

“Ada arahan dari Pak Luhut, agar kita coba pelajari untuk memberikan program insentif yang berbasis penguatan nilai TKDN. Jadi semakin tinggi nilai TKDN, itu semakin perlu mendapat perhatian dari pemerintah termasuk persiapan-persiapan dalam pemberian insentif,” jelas Menperin.

Ke depan, Kemenperin berharap investasi BYD tidak berhenti pada perakitan mobil semata, melainkan merambah ke pengolahan bahan baku, manufaktur sel baterai, hingga industri daur ulang baterai (battery recycling).

“Peresmian fasilitas produksi BYD Indonesia bukan sekadar beroperasinya sebuah pabrik baru. Ini merupakan momentum untuk memperkuat basis manufaktur, memperdalam struktur industri, serta membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin terintegrasi,” pungkas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *