Opini  

Memaknai “Anjining Diri Saka Lathi” di Era Digitalisasi

ABNnews – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Dalam hitungan detik, sebuah ucapan dapat tersebar ke jutaan orang melalui media sosial, siaran langsung, podcast, maupun pemberitaan media. (Mainstream dan antimainstream).

Di satu sisi, kemajuan ini membuka ruang demokrasi yang lebih luas. Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan fenomena yang mengkhawatirkan: semakin banyak pernyataan yang keluar dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari warga biasa, tokoh masyarakat, kalangan profesional, akademisi, artis, pengacara, hingga pejabat publik yang justru menimbulkan kontroversi.

Tidak sedikit ucapan yang bernada merendahkan, menyindir, menghina, memprovokasi, menyebarkan kebencian, atau melukai perasaan pihak lain, dan tidak jarang sebagian berujung pada proses hukum karena dianggap memenuhi unsur pencemaran nama baik, ujaran kebencian, fitnah, atau penyebaran informasi yang menyesatkan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekedar kebebasan berbicara, namun hilangnya kesadaran dan etika, bahwa kata-kata memiliki konsekuensi moral, sosial, dan hukum.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, marikita lirik sebuah kearifan lokal Jawa yang menghadirkan sebuah pesan lama namun tetap relevan sepanjang zaman: Ajining diri saka lathi. yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih memiliki makna “Harga diri seseorang ditentukan oleh ucapannya.”

Ungkapan ini bukan sekadar mengajarkan dan berbicara tentang kesopanan, Moral, adan dan etika dalam berbicara, tetapi mengandung filosofi yang sangat mendalam.

Dalam pandangan masyarakat Jawa, lathi (lidah) adalah cermin kepribadian. Apa yang keluar dari mulut seseorang sesungguhnya mencerminkan isi pikirannya, kualitas karakternya, kedewasaan emosinya, bahkan integritas moralnya. (Mungkin dalam salah satu Pribahasa linier dengan Mulutmu adalah harimaumu).

Seseorang mungkin memiliki jabatan tinggi, pendidikan yang hebat, atau kekayaan yang melimpah. Namun apabila lisannya dipenuhi penghinaan, kesombongan, kebohongan, dan caci maki, maka kehormatan yang dimilikinya akan memudar. Sebaliknya, orang sederhana yang mampu menjaga tutur kata sering kali memperoleh penghormatan yang jauh lebih besar.

Dalam konteks modern, “lathi” tidak lagi hanya berarti ucapan secara langsung. Lathi telah menjelma menjadi setiap bentuk komunikasi: tulisan di media sosial, komentar di dunia maya, pesan singkat, unggahan video, hingga pernyataan resmi kepada publik. Jari yang menari di atas kaypad dan mengetik pada gadget, hakikatnya adalah perpanjangan dari lidah.

Oleh karena itu, falsafah tersebut menjadi semakin relevan di era digital.

Integritas Dimulai dari Bahasa

Seorang pemimpin dinilai bukan hanya dari kebijakan dan keputusan yang diambil, cara memanage Sumber daya, tetapi juga dari cara ia berbicara. Seorang hakim, pengacara, polisi, TNI, dokter, dosen, guru, jurnalis, maupun aparatur negara membawa kehormatan profesinya melalui setiap kalimat yang diucapkan (diunggah).

Ketika seorang pejabat mengeluarkan pernyataan yang meremehkan masyarakat, ketika seorang profesional berbicara dengan arogan, atau ketika tokoh publik melontarkan sindiran yang memecah belah, sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pribadi, melainkan juga kehormatan institusi yang diwakilinya.

Itulah sebabnya dalam budaya Jawa dikenal pula ungkapan: “Becik ketitik, ala ketara.”

Kebaikan maupun keburukan pada akhirnya akan tampak. Demikian pula dengan ucapan; mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi jejak digital dapat menyimpannya selama bertahun-tahun.

Kebebasan Berbicara Bukan Kebebasan Melukai

Demokrasi memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Namun kebebasan selalu disertai tanggung jawab. Hak untuk berbicara tidak berarti hak untuk menghina, memfitnah, menghasut, atau merendahkan martabat orang lain. Frans Magnis Soeseno mengatakan “Setiap orang bebas melakukan apa saja, tetapi orang lain juga harus terbebas dari perbuatan orang lain (dijamin kebebasannya).

Dalam perspektif etika komunikasi, setiap ucapan setidaknya perlu melewati tiga pertimbangan sederhana:

* Apakah benar?
* Apakah bermanfaat?
* Apakah disampaikan dengan cara yang baik, bermoral dan bermartabat?

Apabila salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi, sering kali diam justru lebih bijaksana daripada berbicara. Setidaknya dalam sikap diam, jika uacapan tersebut salah anda tidak ikut di salahkan, namun jika ucapan itu benar mungkin anda dianggap ikut membenarkan.

Bahasa sebagai salah satu Cermin Kepemimpinan

Bagi seorang pemimpin, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat. Ucapan adalah instrumen kepemimpinan. Melalui bahasa, seorang pemimpin dapat memberikan ketenangan dan atau menenangkan kelompok atau masyarakat yang dipimpinnya ketika terjadi krisis, membangun optimisme saat menghadapi tantangan dan permasalahan, menyatukan kelompok yang berbeda, dan memulihkan kepercayaan publik.

Sebaliknya, ucapan yang emosional, sinis, atau merendahkan dapat memperbesar konflik, mengikis legitimasi moral, dan menurunkan wibawa kepemimpinan.

Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi harus mampu mengendalikan kata-katanya.

Relevansi bagi Kehidupan Masa Kini

Fenomena maraknya “salah ucap” yang terjadi di berbagai kalangan menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu diikuti dengan kematangan etika berkomunikasi. Semakin luas jangkauan sebuah ucapan, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.

Falsafah “Ajining diri saka lathi” mengajarkan bahwa martabat seseorang dibangun dan dilihat dari tutur katanya. Reputasi yang dibangun selama puluhan tahun dapat runtuh hanya oleh satu kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan.

Di era ketika setiap kata dapat direkam, dibagikan, dan dihakimi oleh publik, menjaga lisan bukan lagi sekadar tuntutan budaya, tetapi telah menjadi kebutuhan etika, profesionalisme, dan bahkan kepatuhan terhadap hukum.

“Ajining diri saka lathi” Meski kalimat ini diambil dari salah satu kearifan lokal Jawa, tetapi memiliki prinsip universal tentang pentingnya menjaga kehormatan melalui komunikasi yang beretika. Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya tensi perdebatan publik, manusia modern memerlukan bukan hanya kebebasan untuk berbicara, tetapi juga kebijaksanaan untuk memilih kata.

Sebab pada akhirnya, kata-kata bukan sekadar suara yang menghilang setelah diucapkan. Kata-kata adalah identitas. Kata-kata adalah cermin karakter. Dan kata-kata dapat dijadikan tolok ukur martabat seseorang.

(Str’90)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *