ABNnews – Dunia kembali dikejutkan dengan kemunculan varian baru Covid-19 yang dijuluki “Cicada”. Varian dengan kode resmi BA.3.2 ini mulai mencuri perhatian global setelah dilaporkan menyebar di puluhan negara. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan hingga akhir Maret 2026, varian Cicada ini belum terdeteksi di dalam negeri. Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah memasukkan varian ini ke dalam daftar pemantauan ketat.
Bukan sembarang varian, Cicada diketahui memiliki sekitar 70 hingga 75 mutasi pada spike protein-nya. Perubahan drastis ini bikin virus jadi lebih sulit dikenali oleh sistem imun manusia.
Melansir The Conversation, Kyle B. Enfield, profesor kedokteran dari University of Virginia, menyebut mutasi ini berpotensi membuat virus lebih mudah menular karena “benteng” pertahanan tubuh kita belum mengenalinya dengan baik.
Sejauh ini, Cicada sudah ditemukan di setidaknya 25 negara bagian di Amerika Serikat. Tak hanya pada pasien, jejak virus ini juga ditemukan dalam sampel air limbah, yang biasanya jadi indikator awal adanya penyebaran luas di suatu wilayah. Selain AS, varian ini juga mulai merayap di berbagai negara di Eropa.
Gejalanya Mirip Flu, Tapi Tenggorokan Terasa Tajam
Ciri-ciri terkena Covid-19 Cicada sebenarnya nggak beda jauh dengan varian sebelumnya, tapi ada satu keluhan yang sering muncul: sakit tenggorokan yang rasanya sangat tajam.
Berikut daftar gejalanya:
* Demam atau menggigil
* Batuk dan pilek
* Sakit tenggorokan yang tajam
* Kelelahan dan nyeri otot
* Gangguan penciuman/perasa
* Diare atau muntah
Kemenkes: Tetap Tenang, Tapi Jangan Lengah!
Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan situasi Covid-19 di Indonesia masih sangat terkendali. Risiko varian yang beredar saat ini pun masih tergolong rendah.
“Masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan,” imbau Kemenkes.
Langkah pencegahannya masih sama: jaga daya tahan tubuh, pakai masker di keramaian, dan segera cek ke dokter kalau merasa gejala memburuk.
Hingga saat ini, belum ada bukti kalau varian Cicada bikin pasien jadi lebih parah atau meningkatkan angka rawat inap secara signifikan.













